Posted in Cerita Saya

Perjalanan anak kedua dan VBAC

Sebelum membaca harap perhatikan 

  • Konsultasilah kepada spesialis kebidanan dan kandungan guna menunjang keberhasilan vbac.
  • Jangan ambil resiko melakukan persalinan tanpa pendamping tenaga kesehatan.

Akhirnya punya kesempatan menulis pengalaman melahirkan. Tepat memasuki bulan ketiga saat ini, saya bersyukur proses melahirkan anak kedua berjalan sesuai rencana awal. Bermula melihat sebuah post di facebook tentang VBAC (Vaginal Birth After Cesar) yang saat itu benar-benar masih blank ngga punya keinginan untuk hamil lagi, ternyata Allah malah memberikan kesempatan itu. 

Awalnya saya berkeinginan operasi minor untuk lipoma yang berada di pinggang belakang dan jari kanan saya, karena ngerasa badan belakangan ngga enak banget, tepatnya November 2015, demam 2 minggu dan akhirnya ke rumah sakit. Entah kenapa seperti alam ngga merestui keinginan saya untuk operasi, dokter keluar kota dan kamar di rumah sakit saat itu penuh. Iseng-iseng mertua meminta saya untuk tes kehamilanan. Hasil tes pertama negatif, badan saya masih ngga karuan, like a something wrong inside me. Next week, saya mendapati dua garis merah di test pack saya. Waduh saya hamil beneran. Bulan Desember akhirnya periksa ke dokter kandungan di Pekalongan, ya, ternyata sudah 4 minggu, hello baby…

Balik Kampung

Mendengar kabar saya hamil lagi, saya meminta suami untuk menerbangkan saya ke Samarinda, biar nanti pas lahiran bisa didampingi dia, well…setuju deh suami. Saat itu anak pertama masih 18 bulan, saya masih senang-senangnya menggendong dia pakai SSC/baby carrier. Ternyata sewaktu giliran pemeriksaan bulan Januari, saya mendapatkan kabar kalau ada pendarahan di dalam. Drama deh. Mana waktu itu lagi mabuk berat. Dokter spog yang ini ngga rekomen banget, ngga perlulah disebutkan namanya, teman saya pun jadi stres gara-gara abis periksa sama beliau. Dan dokter itu pun bilang saya berpotensi keguguran. Ya sudahlah nyari opsi berikutnya ke dokter spog lainnya. Setelah baca blog sana-sini, googling, dan rekomendasi teman perawat, akhirnya ketemu deh sama dokter Erwin Ginting, yang akhirnya menjadi provider saya hingga lahiran. Beliau bilang, untuk sementara waktu stop gendong pake baby carrier, dan banyak istirahat aja. Alhamdulillah aman. Ya, akhirnya saya 100% yakin bakal melahirkan di kampung halaman saya, dimana saya juga dilahirkan, Samarinda.

Bedrest

Dikehamilan ini bisa dibilang bed rest di rumah sakit adalah hobi, duh. Baru ini saya melewati kehamilan yang luar biasa, di trimester awal saya seperti manusia yang bakal melahirkan anak vampir, tau kan film apa, bisa dibayangkan usia kandungan 4 bulan cungkring banget. Akhirnya masuk rumah sakit. Aaah masa itu sudah terlewati, ngga mau lagi deh saya mondok, itu sih ceritanya kapok.

Ternyata waktu mau memasuki bulan kedelapan, tepatnya bulan ramadan, saya harus kembali lagi, saya mengalami kontraksi prematur, waktu itu masih masuk 31-32 minggu usia kehamilan, rasa mulas ngga karuan datang, dan kontraksi itu datang sering, mau ngga mau program senam hamil di stop dulu sampai waktu yang tidak ditentukan, waktu itu saya baru dapat 4 kali pertemuan. Akhirnya setelah pemeriksaan, saya langsung dirujuk ke rumah sakit, setelah bed rest tiga malam dan observasi semalam. Rasanya kangeeeeeen banget sama anak pertama, yang tau-tau udah gede aja. 

Senam hamil

Mengenai senam hamil, saya iseng ikut ketika melihat poster di tempat praktik dokter kandungan yang saya pilih, akhirnya setelah konsul saya ikut, banyak manfaat banget yang bisa di dapat dari senam hamil, sangat membantu proses persalinan, awalnya saya ragu bakal bisa melahirkan normal, akhirnya berhasil juga, salah satu faktor yang mendukung ya senam hamil ini, makasih bidan Ema dan teman-teman kelas supportnya. Tapi karena riwayat sering kontraksi jadi saya ngga memaksakan diri kalau lagi datang kontraksi. Ada rule yang harus diikuti selama senam hamil demi keselamatan bayi juga. 

The day

Setelah beberapa babak drama yang saya lewati selama kehamilan, akhirnya masuk trimester akhir, dimana masa galau menunggu gelombang cinta datang (ceileh bahasanya). Setelah keluar dari rumah sakit pasca bedrest, dan harus banyak bedrest sampai saya bosan bedrest, dokterpun geleng-geleng gegara pasiennya bosan bedrest, saya mikirin masalah pembukaan. Karena pengalaman terdahulu ngga ada perkembangan pembukaan. Lebih tepatnya minim pengetahuan tentang kehamilan, dan kurang kritis sama dokter pas konsultasi. Masuklah masa-masa galau, berusaha ngga elus-elus perut dulu, dan menunggu waktu yang tepat. Akhirnya setelah lebaran terbitlah cuti suami, sebelum doi cuti saya sudah kalang kabut, karena kontraksi palsu, karena pesan dokter begitu sakit datang tanpa was wes wos langsung ke Rumah Sakit aja. Senin 11 Juli 2016, sudah hampir sepekan tidurku tak nyenyak, badan udah kaye ban bocor ditambal sana-sini pakai koyo, gitulah gambaran hamil tua saya. Belum ada pembukaan saat cek ke bidan. Selasanya, semalaman suntuk ngga bisa tidur, badan ngga karuan, kontraksi juga datang terus, subuhnya memutuskan ke bidan, baru pukul 3.30 subuh mulai bisa tidur. Sampai paginya rasa itu mulai datang lagi, ngga karuan deh, tapi suami nyantai dan bilang, “alah belum kali,” karena kurang percaya akhirnya nelpon dokter.

Setelah dokter bilang, langsung cus aja bu, ujug-ujug saya tiba di UGD, di UGD lagi sakit-sakitnya ditanyai pula saya mau apa dan siapa yang mau lahiran, errrr you know what i feel. Biasa ibu-ibu mah mau lahiran jangan ditanyain. Jam 7 pagi sudah fix masuk UGD, dilakukan serangkaian pemeriksaan dan say hello again, “Hello UGD we meet again” sambil jongkok-jongkok nahan sakit, lha belum ada pembukaan. Akhirnya masuk kamar, saya memilih fasilitas pelayanan yang bisa request dokter, dan alhamdulillah dokternya ada di tempat hari ini, soalnya belakangan suka keluar kota sih. Jam dua belas siang teng, waktunya makan siang yang dirangkap sarapan juga, tiap lima menit sekali kontraksi, dokter yang sudah visit terlebih dahulu sebelum makan siang pun bilang, “selamat menikmati” maksudnya menikmati kontraksi, untuk ngurangi sakitnya saya ngga berhenti ngunyah ngunyah ngunyah, sampai akhirnya saya ngga kuat nahan, karena ngga ada pembukaan, dan jalan lahir mulai sempit. Wadooow lapor deh sama bidannya, well saat itu saya sudah memutuskan untuk operasi lagi yang akan dilaksanakan 8 malam nanti. Di dinding jam masih menunjukkan waktu setengah 3 sore, saya ngga kuat sudah ngga bisa menahan ngejan yang otomatis datang terus, drama panik deh di kamar sampai beberapa bidan juga bertandang. Dokter dengan wajah sedikit bercanda bilang, “yaudah eksekusi”. Baru persiapan mau ganti baju operasi, saya berdiri mondar mandir ngga karuan di kamar mandi, serasa mau pup, dan ngga lama, duaaaaar… ternyata ketuban saya pecah, dokter yang sudah jalan menuju ruang operasi langsung dikejar-kejar bidan. Saya dibaringkan dan langsung dibawa ke ruang bersalin. Mukjizat datang, dari yang ada pembukaan sama sekali langsung jadi full. Sebentar sebentar, btw selama proses menunggu tadi sebelum menuju proses persalinan, ibu yang pernah punya riwayat cesar saat itu akan dipasang kateter guna memantau air seni, jika berubah warna pink, mau ngga mau harus sesar lagi, dikhawatirkan terjadinya robekan rahim. Nah saya saat mau ganti baju operasi minta copot kateter, biar nanti saat di ruang operasi dipasang kembali, ternyata salah. Well lanjut saya dibawa ke ruang bersalin, setelah dengar aba-aba dokter, akhirnya 3 kali ngejan beneran lahir juga anak kami, ngga disangka prosesnya sebentar banget, dan suami mendampingi untuk pertama kali dalam hidupnya. 

Sewaktu tadi mau dibawa ke ruang operasi dokter saya sebenarnya ngga mau mengoperasi saya, tapi malah rencananya mau partus aja di sana biar alatnya lengkap, karena beliau bilang sayang kalau harus dioperasi, kan bayinya kecil, ternyata bayi saya 2,9 kg lebih besar dari anak yang pertama. Kaget bukan kepalang, akhirnya tuntas sudah misi vbac saya, eh belum, karena saya menyalahi prosedur melepas kateter saya dipantau selama satu jam setelah melahirkan, kalau ngga ada air seni sama sekali selama satu jam, mau ngga mau saya dioperasi, ditakutkan rahim saya robek. Alhamdulillah semua berjalan lancar, saya ngga jadi di operasi lagi, dan semua aman, keesokan harinya pun langsung boleh pulang. 

Big thanks to Allah, suami, dokter Erwin, bidan-bidan yang sudah membantu, anak pertama, selamat kamu udah jadi kakak, mba Endah atas cerita VBAC jg, makasih waktu curhatnya mba, keluargaku yang support, dan semua. 

Untuk yang mau melahirkan normal jangan lupa rajin ke dokter, ikuti sarannya agar berhasil dan selamat. Saya bukannya mendukung atau promosi vbac, tapi vbac adalah pilihan kita sebagai ibu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s