Posted in NHW

NHW vol. 2: Checklist Profesionalisme Perempuan

Memasuki pekan kedua dalam program martikulasi dan berarti ini adalah PR kedua kami sebagai peserta program. Untuk memenuhi syarat “kelulusan”diperlukan pemahaman mendalam tentang program ini. Nah, PR a.k.a Nice Home Work kali ini, susah-susah gampang. Dimana saya harus mendalami lagi diri saya.

Karena agak susah untuk dijabarkan, jadi saya memutuskan membuat mind mapping terlebih dahulu,  tentunya menggunakan indikator yang sudah ditentukan oleh penyelenggara program ini. Indikator itu disebut SMART, yaitu terdiri dari

  • SPESIFIC  (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Untuk memudahkan NHW ini saya membuat mind mapping agar saya bisa menjabarkannya lebih mudah. 

Mari mulai dari yang pertama, peran saya sebagai individu

Menikah, telah mengubah hidup saya, hampir secara total. Dulunya saya sangat ekstrovert dan suka kegiatan outdoor. Selama menikah dan punya anak saya menjadi pribadi yang tertutup. Seperti ilustrasi diatas, cukup menggambarkan spesifikasi dari kepribadian saya. Saya sadar saya punya keunikan, dan saya ingin mengasahnya kembali, dari membuka kembali blog, itu adalah salah satu langkah awal saya untuk membuka diri saya, selain itu dengan mengikuti komunitas, saya dapat berkenalan dengan banyak orang. Mungkin ini efek dari kurangnya manajemen hidup saya yang cenderung berpindah-pindah tempat selama 3 tahun belakangan, makanya saya menjadi introvert. Saat ini saya mengusahakan bertemu dengan teman-teman dalam komunitas minimal sebulan sekali. Tentu saja apa yang ingin lakukan, saya tidak sedikitpun ingin mengubah diri saya, saya nyaman menjadi diri saya sendiri, termasuk menjadi cuek. Agar saya tidak terlalu dalam mencampuri kehidupan orang lain. Lalu masuk lagi ke peran kedua.

Checklist Individu

  1. Dari introvert lebih membuka diri untuk sosialisasi, seperti bertatap muka dengan teman, mengikuti kajian, bertetangga, minimal sebulan sekali.
  2. Meningkatkan ibadah, sholat lima waktu lebih tepat waktu, sholat sunnah, seperti tahajud, dhuha, minimal, sehari harus ada ibadah sunnah. 
  3. Lebih kreatif, melakukan hobi untuk mengisi waktu senggang, belajar mendesain untuk kreasi rajut, minimal seminggu sekali ada kreasi yang dihasilkan. 
  4. Meluangkan waktu untuk membaca dan menulis blog. Minimal sebulan sekali, untuk merefleksikan diri dan juga menambah wawasan. 

      Peran sebagai istri

      Untungnya PR ini melibatkan suami, paling tidak bisa membangun kembali visi misi rumah tangga kami. Sebagai istri, tentunya ingin bisa berkomunikasi secara gampang, beromantis ria, bercanda dan lain sebagainya. Nyatanya, realita tak semanis drama korea. Memiliki sifat sama-sama keras, maksudnya keinginan keras, tentu sering terjadi perbedaan pendapat dalam hubungan kami. Komunikasi pun jarang dilakukan,  apalagi kalau sudah giliran harus berpisah dalam waktu lama. Dan saat ini kami kembali menjalani pernikahan jarak jauh. Sebuah keterpaksaan yang harus dijalani. Kenapa susah berkomunikasi? Karena memang keadaannya infrastruktur kurang mendukung. Jadi kami tak menyalahkan teknologi.

      Dalam kesempatan-kesempatan tertentu (dibaca: ada sinyal) akhirnya kami pertukar pikiran. Saya dan suami bukan pasangan yang romantis, tapi saya selalu berusaha menjadi teman saja. Saya tidak menuntut beliau untuk menjadi pasangan sempurna, tapi harapannya beliau bisa mendukung saya selalu dalam berbagai hal. Baik, kembali ke poin komunikasi, memang sebagai istri saya harus gamblang, ceplas ceplos, agar suami tidak menebak-nebak apa maunya istri, dan akhirnya ketika saya meminta beliau membantu mengerjakan PR ini. Baru muncullah apa saja yang dia inginkan dari saya selama ini. Karena suami saya tipe orang yang harus ditanya terlebih dahulu bukan bercerita terlebih dahulu. 

      Dengan adanya indikator apa yang bisa membuat suami bahagia. Akhirnya saya bisa membuat target-target baru yang akan terus saya kerjakan. Tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan suami, alias pangannya. Tetapi saya harus lebih bisa me-manage keuangan rumah tangga, apalagi tanggung jawab saya besar karena berjauhan dengan beliau. Indikator yang beliau mau tentu saja akan berkaitan erat dengan peran saya yang ketiga, yaitu menjadi Ibu. 

      Peran Istri

      1. Jika suami pulang, memasakan makanan kesukaannya, dua bulan sekali. 
      2. Menghibur disaat suami sedang kesusahan. 
      3. Lebih patuh terhadap suami dan menghargai pendapatnya jika berbeda pendapat. 
      4. Belajar mengelola keuangan dengan  belajar pembukuan dari suami.
      5. Menjaga perilaku hidup bersih sehat, agar keluarga sehat selalu. Selalu mengecek kebersihan rumah dan kerapihannya. 
      6. Mendidik anak, kembali murojaah apa saja yang sudah didapat di sekolah, merawat anak, pergi ke posyandu atau puskesmas untuk vaksin sesuai jadwal. Berkunjung ke dokter, jika anak sakit, memperhatikan tumbuh kembang anak tiap bulannya. 
      7. Lebih bersabar jika mendapatkan musibah atau masalah. Dan berusaha mengendalikan diri.
      8. Menyempatkan waktu berolahraga, minimal seminggu sekali.

      Saya, ibu dari dua orang anak laki-laki, dimana sang sulung, sedang dalam masa mendambakan role model. Bagaimana kiat agar anak tetap menjadikan ayahnya sebagai role model mereka. Tentu saja saya harus mencari cara agar mereka bisa tetap merasakan adanya ayah walau jarak memisahkan. Berkomunikasi dengan video call, salah satu contohnya yang bisa dilakukan seminggu sekali sesuai dengan keadaan. 

      Menjalani Long Distance Relationship, hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya, dan harus menjadi ibu cekatan. Selain itu saya juga harus memperhatikan tumbuh kembang kedua buah hati saya, yang dimana usia mereka terpaut dua tahun saja. Tentu kebutuhannya berbeda, itulah kenapa saya harus jeli. Berkaitan dengan kebutuhan tentu saya dituntut lebih pandai mengelola keuangan keluarga yang sudah diamanahkan oleh suami. 

      Dari keuangan itu, saya sisihkan kembali sebagian untuk modal usaha saya,  yaitu merajut. Ini juga langkah saya untuk menjadi produktif dan bisa membantu keluarga saya. Dan juga hasil dari bisnis kecil-kecilan saya bisa dipergunakan untuk mengupgrade diri lewat seminar ataupun webinar. Ataupun sebaliknya, dengan mengikuti pelatihan keterampilan saya menjadi punya skill tambahan untuk dikembangkan dalam usaha saya. 

      Menjadi ibu harus bisa membagi kasih sayang. Saya harus lebih adil lagi memberikan kasih sayang antara adik dan kakak. Memberikan nasihat kepada kakak sesuai umurnya agar memahami kalau dia memiliki adik. Berusaha tetap mendidik anak dari rumah walau kakak saat ini mulai ikut kelompok bermain, dengan cara rajin memantau perkembangannya dan diskusi dengan ustadzahnya melalui buku penghubung yang diisi setiap hari.

      Dan semua tak luput dari bantuan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena karuniaNya lah saya selalu diberi kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup, tinggal bagaimana saya menjalankan peran sebagai hambaNya yang harus lebih disiplin lagi dalam beribadah. Semoga ibu-ibu lain juga diberikan kemudahan oleh Allah dalam menjalankan peranan masing-masing di kehidupan ini. Dengan adanya indikator ini saya merasa, saya harus menyelami diri saya lebih dalam lagi agar tercapainya visi-misi untuk menjadi Ibu Profesional. 
      Pekalongan, 27 Oktober 2016

      Pujiati

      Martikulasi batch 2. Kelas SSJP

      Advertisements

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s