Posted in NHW

NHW vol. 3 : Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Abaikan gambarnya,maklum amatiran. Tapi gambar itu punya makna. Yaitu bagaimana cara membuat sebuah kekuatan besar dari dalam rumah. Nah, hal itu sampai sekarang dan seterusnya akan terus saya pelajari bersama keluarga saya. Baiklah masuk ke topik bahasan Nice Home Work sesi ketiga. Kali ini sangat berkaitan dengan ilustrasi di atas. Bagaimana seorang ibu berperan serta untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Hal itu tentu cita-cita yang sudah terbesit dalam pikiran saya ketika telah mendapatkan pasangan. Mampukah kita bersama? Mampukah kita bertahan? Siapkah saya jadi orangtua? Tentu diprogram Martikulasi ini akan sangat membantu saya untuk menjawab tantangan kehidupan lebih terarah. First of all, mari buka post ini dengan surat cinta untuk suami.

PS. Bacanya sambil dengerin lagunya Tulus – Jangan cintai aku apa adanya atau Ed Sheeran – Photograph yah.
Surat Cinta Untuk Suami

Dear husband, 

Kita tahu, tiga tahun perjalanan ini banyak sekali pasang surut. Itu baru tiga tahun, masih banyak waktu lainnya yang harus kita lewati, aku bukan sosok istri yang romantis, begitu juga kamu. Tapi kamu tahu aku sentimentil. Well, begitu aku memilih kamu waktu itu, aku cuma berharap kamu orang yang tepat. 

Tak banyak waktu memang untuk kenal jauh denganmu saat itu, tapi waktu yang mengantarkan kita berkenalan dan menjalani hidup bersama. Keunikan-keunikan kita yang membuat hidup kita ngga monoton, lucu rasanya setelah tiga tahun kebersamaan baru nulis surat cinta. 

Aku tak tahu banyak alasanmu memilihku, tapi seiring waktu kebersamaan, kamu membuktikan bahwa kamulah yang layak untuk jadi suami. Walau kamu tak punya banyak waktu bersama disetiap harinya, tapi kamu bisa mengikis jarak, buktinya anak kita yang pertama mengidolakan ayahnya, tiada hari tanpa kata Ayah, Ayah, dan Ayah. Kata pertama yang dia ucapkan pun Ayah. Itulah bukti bahwa kamu bisa terus ada walau jarak sering memisahkan kebersamaan kita. 

Aku tahu, tak perlu selalu ucap ‘I love you’ setiap hari untuk menambah rasa sayang, tapi perhatian lewat pertanyaan yang bisa dibilang seperti sms foward yang diulang-ulang pun sudah mewakili perhatianmu kepada keluarga kecil kita. 

Aku juga tahu keinginanmu menghapus jarak sangatlah kuat, tapi biarlah kita merasakan jarak saat ini, buktikan saja dengan bonding saat kita bersama, yang jelas, kalau kamu di rumah, lupakan dulu aneka macam pekerjaan yang menganggu waktu kebersamaan kita, itu yang membuatku kesal. Karena anak-anak juga merindukan ayahnya untuk duduk di lantai dan bermain bersama. Dan waktunya sangat singkat. Disuatu waktu aku sedih melihat anak kita yang ingin sosok ayahnya selalu dekat, tapi aku tau kamu pasti merasakan hal yang sama. 

Tetaplah hadir sebagai ayah walau harus ada jarak, upayakan hal itu terus, agar anak kita selalu ingat bahwa ayahnya punya peranan dalam mendidik bersama, aku senang kamu antusias dengan perkembangan anak-anak kita bahkan lewat pertanyaan ngga penting sekali pun. Tapi itu malah jadi hal penting buatmu. Ayah, teruslah bekerja dan bekarya di sana. Agar ada selalu ada cerita menarik yang aku ceritakan ke anak-anak di sini. Jadikan kita motivasimu untuk selalu terus jadi Ayah yang terbaik. We love you and miss you so much. Come home soon, Ayah. 


Your wife. 

Singa dan Elang

Hal yang menjadi perdebatan kami salah satunya adalah memberi nama anak, dan pada akhirnya saya mengalah dan sepenuhnya manut suami. Jadilah anak kami bernama Haidar dan Haitsam. Dalam arti kata Haidar  berarti singa. Haidar anak yang spesial, kehadirannya sangat aku tunggu saat itu. Dia kado terbaik dari Allah. Saat itu, aku sempat mengalami baby blues setelah melahirkan dia. Mungkin kekecewaan dan ketakutan. Kecewa karena akhirnya ngga bisa melahirkan normal dan memberinya ASI eksklusif, ketakutan karena khawatir tidak bisa jadi ibu karena ngga punya pengalaman tentang mengurus bayi. Ini memang agak mempengaruhi emosional dia. Tapi Haidar anak yang hebat. Perlahan dia bisa berubah, melihat perubahannya menjadi lebih baik memotivasi ibunya juga untuk menjadi lebih baik lagi, tinggal mengisi ulang kesabaran lebih aja. Haidar anak yang cepat tangkap, dia memiliki potensi kecerdasan fisik (physical intellegence) dibuktikan semenjak usia 5 bulan sudah mulai belajar duduk, dan usia 8 bulan mulai berjalan di usia 9 bulan sudah lancar berjalan. Saat ini di KB dia juga termasuk anak yang lincah dan sangat aktif. Di rumah pun begitu. Itulah kadang yang membuat Ibu harus mengisi ulang kesabarannya, karena menguras tenaga. Haidar juga cepat tanggap, dan perlahan-lahan akhirnya mulai bisa menjadi sosok kakak yang melindungi adiknya. Maaf ya nak kamu dewasa lebih cepat. Memang kalau orang jawa bilang “Nuwo” padahal dia anak kecil yang masih berusia dua tahun setengah. Sosok pelindung sudah terlihat dari dirinya. 

Beralih ke sosok adik, yang baru terlahir bulan Juli lalu, namanya Haitsam, yang artinya elang. Seperti elang yang pandai melihat kesempatan, mungkin dia ingin buktikan, kesempatan terbaik untuk terlahir di bumi ini. Dia anak yang kuat dan bisa melahirkannya adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Allah memudahkan saya dalam hal mengurus bayi ini. Sejak baru lahir hingga sekarang saya mendapat kemudahan, bisa dibilang seperti saat dia kalau tidur, self soothing, saya melihat potensi kemandirian dari anak kedua saya. Sosok yang kalem juga. Semoga seterusnya ya dek. Dari mereka lah saya belajar dan akan terus belajar bagaimana cara menjadi ibu yang layak dan nyaman. Sama-sama ya nak belajarnya, tolong bantu ibu. 

Setiap anak pasti memiliki perbedaan yang tak perlu dibeda-bedakan, sama seperti ayah dan ibu yang punya pola asuh beda dan cara masing-masing. Allah amanahkan kepada saya suami yang bekerja jauh untuk mencari nafkah pastinya Allah punya tujuan. Saya menangkap maksud Allah agar saya makin rajin beribadah, lebih terbiasa mandiri dan kuat. Dengan selalu komunikasi tentunya untuk mengolaborasikan keinginan untuk mendidik anak pun bisa tercapai. Dan pada akhirnya menikah adalah sebuah wadah dimana kita saling belajar mengikis ego masing-masing. Bukan perkara satu dua tahun, tapi bertahun-tahun. Kami pun masih punya banyak sekali cobaan, hanya bagaimana cara agar tetap bersatu itu yang selalu kita pertahankan. 

Keluarga bukan masalah materi, keluarga adalah tempat kembali, keluarga tempat belajar dan mengajar. Kami masih miskin ilmu, tentunya akan selalu mencari ilmu dan membagikan ke satu sama lain. Agar tercapai tujuan dan misi kita. Semoga perbedaan visi misi ini bisa melebur dikemudian hari. Ibu yang dibekali bakat seni dan Ayah lebih cenderung pandai dibidang hitung menghitung tentunya ngga gampang menyatukan pola pikirnya. Semoga kelak kami menemukan cara tepat untuk memberikan pendidikan kepada buah hati kami. 

Dengan hijrahnya saya ke kota ini, semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi menantu yang tahu diri dan bisa menempatkan diri, menjadi Ibu yang lebih sabar menghadapi anak-anak dan bisa mendapatkan kesempatan mengembangkan karyanya juga. Karena tinggal di kota kreatif, membuat diri kita terpacu untuk kreatif juga. 

Terimakasih Ayah, sudah mau mengambil peran penting sebagai suami dan ayah dari anak-anak dalam hidupku. Terimakasih Haidar, sudah hadir dalam hidup ibu dan tumbuh menjadi anak yang mandiri, kuat, aktif, dan pandai. Haitsam juga, terimakasih atas persalinan nyaman dan menjadi gentle baby, tumbuh terus kalian bersama Ibu.

Pekalongan, 4 November 2016
Pujiati, 

Martikulasi batch 2. Kelas SSJP

Advertisements

One thought on “NHW vol. 3 : Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s