Posted in Cerita Saya, Parenting

Parenting class bersama bunda Rita : Persepsi Fitrah

Alhamdulillah, ternyata nurut sama suami bawa berkah juga, memang tiap orangtua punya pilihan masing-masing dalam mendidik anaknya. Ada yang memilih menyekolahkan anak di usia dini ada juga yang tidak. Tapi terlepas dari idealisme itu dan segala bentuk perdebatan sana-sini, saya dan suami memilih fokus untuk menyamakan persepsi. Apalagi saya ngga bisa sepenuhnya mendidik karena masih blank harus mulai darimana. Beruntung, kami mendapatkan sekolah dimana anak kami dikenalkan tauhid, dan sekaligus sebagai media pembelajaran saya untuk mulai menyusun pendidikan anak. 

Hari ini, sabtu kami orangtua mendapatkan undangan parenting class, yang diadakan 2x dalam setahun dari yayasan sekolah. Kali ini menghadirkan ibu Rita Sahara, pengelola PAUD di Pati, Jawa Tengah. Dalam kunjungan singkatnya. Kita mendapatkan banyak pengetahuan guna menyamakan persepsi pendidikan sekolah dan di rumah. Seperti visi misi sekolah integral, yaitu bermitra dengan orangtua untuk menumbuh kembangkan potensi fitrah secara utuh dan menyeluruh. 

Dengan samanya persepsi tentu kita sebagai orangtua bisa berperan aktif juga dalam mendidik anak di rumah. Tentunya ada beberapa hal yang harus dirubah terlebih dahulu. Diawal seminar, Bunda Rita membahas masalah persepsi tentang anak. Anak adalah amanah dari Allah, hanya amanah bukan milik kita seutuhnya, tetapi diperlakukan seperti milik kita. Adanya kata-kata amanah, tentunya membuat kita sebagai orang tua menjadi memiliki sebuah tanggung jawab. Ya, tanggung jawab besar yang Allah titipkan kepada kita.  

Melihat lagi kepada diri kita, agar lebih memahami maksud dan tujuan Allah memberikan amanah tersebut. Pasti Allah punya alasan mengapa memilih kita, karena Allah sudah mengatur diri kita, kapan tepatnya kita diberi amanah. Dari hasil renungan atas tujuan Allah memberikan amanah, dengan begitunya kita harus bisa menempatkan diri atau posisi jika anak itu mutlak milik Allah. 

Sebuah perjalanan mendidik anak

Memiliki buah hati, tentunya tak lepas dari masa awal-awal menuju persiapan hamil. Dimana saat-saat inilah yang menentukan anak berkualitas. Untuk pasangan yang ingin memiliki buah hati, bunda Rita memberikan tips. Yaitu yang pertama dimulai dari Ayah. Karena hal ini faktor penentu kelak anak kita seperti apa. Pastikan ayah mendapatkan gizi yang layak. Karena status gizi ayah menjadi penunjang, selain apa saja yang Ayah konsumsi, bagaimana habit ayah, apa ayah sholat 5 waktu, melakukan ibadah lainnya, apa Ayah mendapatkan rizki yang halal, dan hal lainnya mempengaruhi apa yang akan dititipkan di rahim istri. Jadi bukan Ibulah yang pertama membentuk bagaimana anaknya kelak. Setelah terbentuknya janin hasil pembuahan, tahapan selanjutnya adalah peran Ibu. Ibu berperan menjaga kandungannya. Peran Ayah juga dibutuhkan di trimester pertama, dan ayah harus punya program 4 bulan pertama bahagia bersama istri. Hingga waktunya tiba, maka kita akan menjadi orangtua. 

Tahapan selanjutnya mendidik anak. Dalam seminar difokuskan membahas anak usia dini. Karena usia inilah masa-masa pembentukan pondasi anak hingga dewasa kelak. Orangtua hanya memiliki waktu hingga anak akhil baligh untuk mendidik anak, menurut bunda Rita, selanjutnya adalah hubungan anak tersebut dengan Allah. Pada masa-masa usia dini, sebagai orangtua harus mengenali fitrah anak. 

Kesemuanya memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dalam tahapan fitrah perkembangan di usia dini, contohnya pada usia 2 hingga 3 tahun,  cara anak berkomunikasi masih menggunakan gerakan pukulan dan tendangan. Masuk usia 3 hingga 4 tahun, anak mulai banyak menyerap kata-kata, seperti kata-kata kasar, kotor, anak akan mengenalinya. Usia anak 5 hingga 6 tahun, anak mulai berkomunikasi. Baik mulai bahas satu per satu. 

  • Usia 2-3 tahun sudah fitrahnya anak masih memukul dan menendang, karena anak tidak dapat berkomunikasi dengan tepat. Namun tahapan ini bisa diubah dengan cara memberikan contoh perbuatan. Secara perlahan akan berubah. 
  • Usia 3-4 tahun, usia dimana anak seperti sponge, menyerap informasi sana sini, dan peran lingkungan bermain besar dalam tahapan ini. Ini yang menyebabkan seringnya dijumpai anak berkata kotor atau kasar pada usia-usia ini. Sebagai orangtua harus pandai menyaring apa saja yang dikatakan anak. Sehingga anak tidak berkata kotor atau kasar. 
  • Usia 5-6 tahun, adalah masa siap anak berkomunikasi dan bisa mengungkapkan keinginannya secara gamblang, apabila kedua tahapan tadi tidak tuntas, diusia ini malah akan menjadi susah dikontrol. Anak menjadi troublemaker disebabkan tahapan-tahapan tadi tidak dituntaskan permasalahannya. 

Diusia 2 hingga 6 tahun akan menjadi penentu dikala anak mulai akil baligh, karena diusia akil baligh anak sudah harus bisa bertanggungjawab atas dirinya. Tetapi sebagai orangtua harus tetap mengawasi anaknya. 

Ada 5 cara untuk menunjang keberhasilan mendidik anak usia dini dari dalam rumah. Antaranya,

  1. Menampilkan keteladanan, tentunya keteladanan Rasulullah rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dengan menceritakan kisahnya, sahabatnya, bukan dengan dongeng-dongeng fiktif yang mengajarkan anak berzina. 
  2. Waktu efektif, ada 3 waktu efektif yang cocok untuk memasukkan konsep kebaikan pada anak, pertama, sebelum tidur, kita bisa review kegiatan anak dan menuntaskan permasalahan anak terlebih dahulu, lalu motivasi. Kedua, saat makan, jadikan saat makan waktu berbahagia. Ketiga, saat bepergian, kita bisa menceritakan betapa indah ciptaan Allah dan mentadabburinya. 
  3. Bersikap adil, memperlakukan kakak sebagai kakak, dan adik sebagai adik, tanpa membedakan.
  4. Menunaikan hak anak, yaitu mengenalkan pencipta kepada anak dan membimbing agar anak dapat beribadah kepada Allah.
  5. Doa. Doa orangtua tentu akan didengar oleh Allah, dan sebagai orangtua harus bersabar terus. Perlu diingat doa seorang Ibu sangat tajam. Sebagai contoh teladan bunda Rita menceritakan sosok Ibu dari imam Masjidil Haram, Abdurrahman as-Sudais.

    Itulah kira-kira rangkuman hasil parenting class Mendidik anak cerdas berkarakter Islam di sekolah dan di rumah dalam menyamakan persepsi pendidikan di sekolah dan di rumah agar bersama-sama membentuk karakter anak sesuai keinginan kita, sehingga bisa menjaga amanah Allah dengan baik. Semoga ilmu yang didapat dapat saya serap dengan baik dan mulai mengubah pola mengasuh anak, karena saya masih sangat jauh dari baik. Terimakasih bunda Rita dan pihak PAUD sudah memberikan ilmu kepada kami. Barakallahu fiik. 

    Pekalongan, 5 November 2016

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s