Posted in NHW

NHW vol. 4 : Mendidik dengan Kekuatan Fitrah


Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Makin ke sini, makin belajar cara memahami maksud Allah mengapa saya dipertemukan dengan orang-orang yang seperti benang yang biasa saya rajut. Ibarat dalam merajut, menggunakan beberapa jenis benang dan dipersatukan sehingga membuat satu pola yang indah. Ya begitulah yang kira-kira saya alami saat ini. Tentunya untuk mewujudkan suatu pola yang indah saat merajut, ada proses yang tak mudah, kadang harus membongkarnya dari awal, kadang sudah hampir jadi harus diulang atau ada kesalahan. Hal itu wajar. Sama seperti menjadi ibu. Analoginya pas sekali, karena saya perajut. Baik mengawali materi Nice Home Work kali ini. Saya mau review kembali apa saja yang ingin saya fokuskan untuk bekal mendidik anak saya.

Dalam NHW vol. 1 saya memilih jurusan ilmu apa yang ingin saya dalami. Ya, alasan terkuat saya adalah anak laki-laki saya. Saya punya tanggung jawab untuk saat ini akan membesarkan dua orang yang akan menjadi imam kelak. Dengan harapan mereka kelak bisa berpegang teguh Al Quran dan sunnah, menjadi pribadi yang tangkas dan kuat. Seperti apa yang dicita-citakan suami saya juga. Tentunya makin kesini saya merasakan adanya koneksi tidak langsung yang mengantarkan saya untuk lebih memahami apa yang sudah saya rencanakan untuk keluarga saya. Saya yakin akan doa Ibu untuk anak, untuk keluarganya. Dalam tahapan ini bisa dibilang saya baru melangkah ke tahap perencanaan. Untuk itu saya ubah kembali list saya dengan target bulanan. Tujuannya agar lebih dapat memantaskan diri dan tidak muluk-muluk dalam berencana.

Dalam NHW vol. 3 lalu saya mendapatkan respon, alasan suami saya memilih saya menjadi istrinya. Yaitu untuk menyempurnakan separuh agama, tentu dia melihat saya bisa mengarahkan kembali ke jalan sesuai fitrah. Dengan begitu misi membangun rumah tangga bisa berjalan dengan selaras. Kembali lagi alasan terkuat untuk menekuni ilmu kecakapan hidup.

Raising good men is a wonderful and honorable thing. 

Itulah sebab saya memilih fokus dengan tujuan saya lagi dan jadi diri sendiri tanpa harus galau. Seperti pesan bu Peni Septi Wulandani dalam video pengantar sesi 4 ini. Dan kalimat yang membuat saya makin semangat menyusun konsep misi untuk anak-anak kita adalah ketika bu Septi berkata, “Pendidikan itu sejatinya adalah proses membangkitkan fitrah anak.” Proses inilah yang sedang saya jalani. Baru bersiap mengatur perbekalan agar dalam perjalanan menuju misi hidup bisa berjalan baik dan selaras. 

Setelah mengetahui maksud Allah, saya akan percayakan sepenuhnya pilihan hidup saya kepada Allah, karena Allah akan membimbing saya, asal saya dapat memantaskan diri saya agar rencana ini bisa terwujud. Spesifikasi dari ilmu yang ingin saya terapkan tentu punya maksud tersendiri. Disamping saya suka dengan kegiatan manly, saya mendapatkan anak laki-laki, ditambah hobi sampingan yang biasa saya dan suami lakukan. Akhirnya terbentuklah: 

  • Misi hidup : Raising good men, strong, gentle, kind and nurture
  • Bidang : Ilmu kecakapan hidup
  • Peran : Pembimbing 

Untuk menjalankan misi ini saya harus mendalami lagi 5 poin nilai inti yang saya rencanakan. 

  1. Iman dan Tauhid : Ilmu yang mempelajari fitrah kehidupan. Yaitu beribadah kepada Allah azza wa jala. 
  2. Adaptasi : Ilmu  seputar adaptasi dengan persepsi, lingkungan, dan tantangannya. 
  3. Mandiri : Ilmu seputar kesiapan untuk menghadapi hidup setelah akil baligh. 
  4. Terampil : Ilmu yang mempelajari apa saja yang perlu dikuasai dalam hidup sesuai dengan minat dan bakat. 
  5. Seni bertahan hidup : Ilmu tambahan agar bisa survive dalam berbagai macam keadaan dimanapun berada, agar siap menjawab tantangan hidup akhir zaman. 

Saat ini saya benar-benar baru memulai semua itu. Learning by doing. Dan fokus terlebih dari langkah pertama dan awal. Yaitu pengenalan iman dan tauhid. Dikarenakan anak saya mulai masuk KB jadi saya menyesuaikan dengan kurikulum sekolah dan memadukan dengan kegiatan di rumah, seperti misi sekolah anak saya agar dapat menyamakan persepsi pengenalan konsep tauhid.

Dalam kilometer 0 ini adalah langkah pertama saya memulai, disamping anak saya yang pertama memasuki fitrah perkembangan. Saya pun berusaha untuk membantu dia menyelesaikan tahapan usia 2 tahunnya menuju tahun ketiganya. Target saya, bisa menyamakan persepsi kurikulum dari sekolah dan rumah sebagai tempat nyaman untuk berkembang. Contohnya saat ini, anak saya dalam tahap pengenalan hadis kasih sayang dan menunjukan kasih sayangnya kepada adiknya. Saat ini yang saya persiapkan adalah kakak. Agar kelak dapat menjadi panutan untuk adik-adiknya, dan berlaku juga untuk adik-adiknya.

  • KM 0 – 1 (usia anak 2 tahun saat ini hingga usia 6 tahun) : pengenalan iman dan tauhid. Durasi pembelajaran 4 tahun. 
  • KM 1 – 2 (usia 6 – 7 tahun) : persiapan adaptasi dengan lingkungan baru dan pemikiran baru, karena diusia ini anak akan lebih kritis, sekaligus persiapan mandiri.
  • KM 2 – 3 (usia 7 – 9 tahun) : memasuki fase pengenalan mandiri, mengajarkan anak bertanggung jawab dengan dirinya dan kegiatan hariannya. 
  • KM 3 – 4 (usia 9 – 15 tahun) : Dari pembelajaran kemandirian, beralih mengenali bakat dan minat anak dan mengembangkan keterampilan yang diminati. Sehingga anak memiliki keterampilan, seperti memasak, berkebun atau berternak. 
  • KM 4 – 5 (usia 15 tahun) : Di sinilah saat yang tepat memberikan pembekalan seni bertahan hidup, mengajarkan anak untuk eksplorasi alam secara mandiri, dan mempercayai anak dapat bertanggung jawab. Kami mulai mengenalkan hobi kami, seperti airsoftgun dengan melibatkan anak cara merawat unitnya, traveling, olahraga yang sesuai minat anak. Juga cara bertahan diri. 

Perjalanan kami sebagai orangtua memang masih panjang menurut rencana, tetapi kami tidak tahu rencana Allah kepada kami kedepannya, dengan adanya perencanaan ini kami berharap kedepannya kami bisa menyamakan persepsi dengan orang-orang sekeliling kami agar dapat membantu jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Semoga saja saya bisa mengaplikasikan perjalanan ini ditahun tahun kedepannya sesuai perkembangan usia anak.

    Pekalongan, 9 November 2016
    Martikulasi batch 2 kelas SSJP

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s