Posted in Cerita Saya, Parenting

Seminar Pendidikan Anak : Pengaruh Pola Asuh Orangtua Terhadap Kecerdasan Emosional dan Intelektual Anak

Bismillah, di hari Sabtu ini tepatnya 25 Februari 2017, diadakan sebuah seminar pendidikan anak yang diadakan Sekolah Dasar Al Irsyad Al Islammiyah. Dengan pembicara ibu Lilis Komariah, M. Psi. Tema yang dibawakan adalah pengaruh pola asuh orang tua terhadap kecerdasan dan intelektual anak. Saya akui di jaman sekarang menghadapi anak harus dengan banyak tak tik, bukan dengan cara membohongi atau mengiming-imingi perkataan kosong. Karena anak sekarang banyak yang kritis. Oleh karenanya sebagai orangtua harus pandai-pandai memilih pola asuh anak. 

Pola sendiri menurut KBBI, berarti 

pemikiran sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman, sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya; 
Merujuk ke pola asuh yaitu sebuah pemikiran tentang cara mengasuh anak, sedangkan pola sendiri terbentuk dan tertanam di alam bawah sadar kita dan menjadi sebuah pembiasaan. Apa yang menjadi pembiasaan kita sebagai orangtua lah yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosional dan intelektual anak nantinya. Saya sendiri bersyukur bisa hadir dalam seminar ini karena saya masih sangat butuh sekali ilmu pengasuhan anak. 

Anak tumbuh dengan fitrahnya dan dilahirkan dalam keadaan fitrah seperti dalam sebuah hadits 

Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka Ibu dan Bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. 

HR. Bukhari

Dan dalam sebuah ayat Al Qur’an yang artinya :

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”

QS. Al Anfaal :225

Ya, tepat mau berapapun jumlah anak kita kelak, mereka hanyalah cobaan bagi kita. Dan tugas kita menjaga amanah ini dari Allah. 

Setuju sekali saya dengan kutipan isi materi seminar tadi. Tidak harus pintar untuk benar. Yang penting bagaimana anak bisa mengaplikasikan kecerdasan intelektualnya. Yang antaranya ada beberapa aspek :

  • Berpikir kongkrit-praktis
  • Daya ingat
  • Konsentrasi
  • Kemampuan berhitung
  • Logika
  • Kemampuan bahasa
  • Koordinasi Visual Motorik
  • Kemampuan abstraksi

Sedangkan dalam aspek kecerdasan emosional antaranya :

  • Kemampuan sistematika belajar
  • Stabilitas emosi
  • Kematangan pribadi 
  • Kepekaan perasaan
  • Kemampuan atasi frustasi
  • Kemampuan menyesuaikan diri
  • Kemampuan berkomunikasi
  • Kepercayaan diri
  • Kemandirian
  • Kemampuan bekerja sama

    Untuk kematangan pribadi sangat berkaitan erat dengan kemandirian. Wah jadi inget tema tantangan 10 hari. Ya, ketika anak mampu mandiri, berarti dia sudah menuntaskan kematangan atau kesiapan dirinya. Kenapa banyak orang intelektualnya tinggi tapi perilakunya tidak sesuai? Dikarenakan adanya permasalahan karakter. Apa itu karakter?

    • Menurut bahasa: tabiat atau kebiasaan
    • Menurut psikologi: suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. 

    Kenapa karakter penting? Karakter menumbuhkan ketabahan/kesabaran, keberanian, kasih sayang, kecerdasan, keimanan, kesederhanan, keteladanan. 

    8 karakter yang harus didahulukan

    1. Tata krama/adab sebelum ilmu
    2. Meminta ijin setelah itu berbagi
    3. Melatih disiplin setelah itu kreatif
    4. Kemandirian setelah itu menolong orang lain
    5. Meminta maaf/mengakui kesalahan setelah itu mengoreksi orang lain
    6. Berterimakasih setelah itu minta tolong
    7. Mendengar dulu setelah itu baru berbicara
    8. Melatih gagal terlebih dahulu setelah itu melatih sukses

    Tata krama/adab sebelum pengetahuan

    • Mengucap salam
    • Meminta ijin
    • Meminta dengan mengucap tolong
    • Menerima dengan mengucapkan terimakasih/bersyukur
    • Menolak permintaan secara halus
    • Melewati orang lain dengan mengucap permisi
    • Cara makan yang baik
    • Mengakui kesalahan dan meminta maaf
    • Berbicara dengan bahasa baik

    Kemudian narasumber menutup dengan pola asuh yang disimpulkan dari pemaparan yang berlangsung, diharapkan kita sebagai orangtua bisa menerapkan rumus authoritative dengan siklus

    • Tega
    • Kesepakatan aturan
    • Konsekuensi (reward & punishment) 
    • Konsisten (waktu, adil, kompak, modeling) 

    Narasumber juga menerangkan pentingnya pendidikan seks sedari dini beserta contoh kasusnya. Bertujuan agar anak tidak terjerumus kedalam pergaulan tidak sehat. Pendidikan seks untuk anak sendiri bertujuan agar anak mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi anak. Pendidikan untuk anak pra sekolah lebih bersifat pemberian informasi berdasarkan komunikasi yang benar antara orangtua dan anak. Seperti bagian mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain, dan bagaimana caranya menghadapi jika seseorang meminta sesuatu yang menyimpang. Saya tidak mengikuti hingga sesi tanya jawab dikarenakan si kecil sudah mulai rewel dan memang sudah waktu untuk bayi-bayi beristirahat. Sebagai penutup ada kutipan menarik dari buku saku yang dibagikan kepada peserta seminar. 

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s