Posted in Cerita Saya, diy

Dondong Opo Salak, Ghendong Opo Mhundak, Kisah di balik gendongan tradisional 

Sebagai orang keturunan jawa saya sangat familiar dengan lagu

  Dondong Opo Salak

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Gendhong opo mhundak, mlaku timik-timik

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Ngandhong opo mbecak, mlaku timik-timik

Ade ndherek Ibu, tindak menyang pasar

Ora pareng rewel, ora pareng nakal

Mengko Ibu mesti, mundut oleh-oleh

Kacang karo roti, ade diparingi

Lagu itu, sudah masuk dalam kehidupan saya sedari bayi, bahkan masa balita saya masih ingat ketika saya ditidurkan dengan lagu itu oleh Ibu, entah sambil menggendong saya atau sekedar puk puk saat mau tidur. Sudah menjadi budaya, bahkan turun sampai saat ini. Saya suka menikmati lagu itu yang versi bossanova, hehehe biar lebih nge-jazz. Ceileh. Tapi kali ini bukan membahas lagu itu tapi makna dibalik lagu itu. 

Yap, menggendong anak. Sudah menjadi sebuah naluri seorang Ibu menggendong anak. Sebuah tradisi kuno sejak jaman dahulu yang memberikan manfaat banyak, yang paling nyata adalah bonding, kelekatan anak terhadap Ibunya. Bicara tentang gendongan, tidak ada habisnya. Mulai yang tradisional hingga modern yang sudah mulai berkembang dan mengangkat issue keselamatan. MasyaAllah, ilmu yang tidak ada habisnya ya. 

Fokus pada Indonesia, negara kepulauan yang dimana saya ditakdirkan untuk lahir dan hidup hingga saat ini. Beruntungnya saya hidup berpindah-pindah tempat, tidak menetap di satu pulau saja. Ketika semasa kecil hingga remaja saya habiskan di Kalimantan, kampung halaman saya. Dimana budayanya kaya sekali. Bahkan suku Dayak sendiri punya gendongan khusus yang bernama Bening Aban, tapi saya familiar menyebutnya Anjat. Seperti foto diatas seperti itulah gendongannya. Digunakan wanita dayak untuk menggendong anaknya di belakang. Agar Ibu yang bekerja di ladang atau dimanapun bisa menggendong dan bekerja dengan leluasa. Kerennya, gendongan ini dihiasi manik-manik bersusun membentuk ornamen khas dayak. Tak hanya manik-manik kadang ada gigi binatang yang sudah mati, kerang, dll. Indah banget. 

Foto ini diambil oleh kawan saya, Abdul Hakim yang berkunjung ke daerah Kutai Barat, tepatnya desa Linggang Melapeh, dimana bermukim suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Oiya gendongan ini berbahan dasar rotan, yang dilapisi kain, menurut kawan saya. Di sana Ibu-Ibu suku Dayak Benuaq, membuat sendiri anjat untuk dipakai sendiri. Yang banyak diproduksi di desa Eheng, kampungnya orang Benuaq. Kalau untuk produksi kerajinan belum terlalu banyak memang. Ya, itulah kenyataan jaman sekarang. Produksi kerajinan tangan mulai terpinggirkan, sama halnya nasib dari penenun lokal. 

Baru-baru ini saya juga berkunjung ke pengrajin tenun, dengan tujuan ingin mencari untuk dijadikan gendongan yang lagi hits dikalangan Ibu-Ibu, Woven Wrap. Bercerita tentang budaya tenun pun tiap daerah punya perbedaan, masih membahas kultur, jika di kampung halaman saya, Samarinda Kalimantan Timur, para pengrajin tenun atbm kebanyakan wanita maka jika di tempat saya tinggal saat ini Pekalongan, maka yang dijumpai adalah laki-laki, jika di Samarinda, setiap rumah punya ruang khusus tenun, beda hal yang di Pekalongan, dikerjakan di satu rumah produksi sendiri dan beramai-ramai. Beda lagi kalau kita ke Timur Indonesia, di sana alat tenun tradisionalnya masih dipangku. Dan di NTB atau NTT denger-denger dari gadis harus bisa menenun sebelum menikah. Karena itu syaratnya dia ketika ingin menikah. Ah, Indonesiaku, makin cinta deh. 

Namun pengrajin punya PR besar, permasalahan yang dihadapi pun sama. Saat ini untuk kerajinan tangan entah itu gendongan dari rotan seperti pembahasan Anjat, kain tenun pun memiliki persamaan masalah, yaitu mulai berkurangnya sumber daya manusia yang mau menekuni pembuatan kerajinan tangan ini, menurut beberapa sumber pengrajin tenun yang pernah saya kunjungi, di Samarinda (2012, pada saat saya dan kawan membuat film pendek Sarung Hasna) maupun di Pekalongan (2017). Padahal dalam dunia gendongan saat ini sedang banyak yang gandrung dengan handwoven. Terlihat makin banyak produsen luar yang mulai bergairah menekuni bisnis gendongan ini. Semoga kedepannya anak muda bahkan Ibu-ibu muda tertarik belajar menenun ya. Agar kita bisa melestarikan warisan kebudayaan ini. Memang budaya ini mulai bergeser lantaran kurangnya motivasi dalam mencintai produksi tangan. Memang, proses kerajinan tangan butuh waktu yang lama, untuk tenun sendiri dari memintal benang sampai masuk ke alat tenun butuh waktu beberapa hari terlebih dahulu sebelum di tenun. Harganya pun saya pikir masuk akal, sangat masuk akal untuk hasil tenunan. Sebagai antusias kerajinan tangan saya pun juga merasakan, bagaimana proses sebuah hasil tangan. Yuk, sama-sama kita mulai belajar mencintai produk dalam negeri. Agar lestari budaya bangsa. 

Tulisan ini saya buat sebagai apresiasi saya kepada Ibu-Ibu Indonesia, khususnya pengrajin tangan tradisional. Semangat juangnya untuk melestarikan budaya semoga bisa menulari kami kaum muda modern. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s