Blog

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Memilih buku bacaan untuk si kecil

Bismillah, 

Memasuki tantangan hari keempat kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam memilih buku untuk si kecil sesuai tahapan usianya. Saya dan suami memang memiliki perbedaan dalam membelanjakan buku. Kalau suami memang kurang antusias dalam segi kuantitas tapi dia lebih suka membelikan berdasarkan kualitas buku, maksudnya adalah cocok tidaknya buku itu dibacakan untuk usia sekian dan sekian. Kalau saya sendiri, suka sekali berbelanja buku. Tentu saja menyesuaikan budget juga. Tulisan ini juga berdasarkan pengalaman keluarga kami. Kenapa suami belum mau membelikan buku yang berisi banyak seri? Alasannya mungkin karena takut tidak ada waktu untuk membacakannya ke anak-anak, dan anak-anak tidak terlalu tertarik dengan cerita yang narasinya kepanjangan. 

Kalau untuk saya sendiri, saya tidak ada masalah dalam berbelanja buku, malah saya suka mengoleksi yang berseri. Karena sudah ada tokoh yang familiar bagi anak. Memang Ibu harus ada effort lebih lagi agak bisa mengoleksi buku. Hihihi. Dalam rangka membuat mini library di rumah, semoga bisa terwujud. Saya sendiri juga mulai kembali mengoleksi bacaan klasik, seperti Pippi. Supaya kelak bisa dibaca anak ketika ia sudah bisa membaca. 

Untuk menumbuhkan minat baca kepada anak sendiri saya rasa memang harus membuat anak tertarik dahulu pada buku. Buku apa saja memang bisa, mulai dari boardbook sampai paperback. Sebenarnya ngga masalah. Mungkin isinya saja yang bisa dipilih-pilih. Karena anak kami bukan tipe anak yang saat ibunya membaca buku terus anaknya anteng, jadi kami memilih buku dengan narasi singkat tapi penuh ilustrasi. 

Contohnya buku Ensiklopedia cerdas, buku terjemahan asal Perancis ini saya rasa cocok dibaca usia 0-5 tahun. Range umurnya cukup lama. Karena narasinya singkat dan menimbulkan antusias kepada anak dan buku-buku lainnya yang berisi narasi singkat, apalagi untuk anak-anak yang belum bisa membaca. 

Kalau saya dan suami memilih buku cerita bebas dan beragam, tidak harus terpaku pada satu tema saja. Karena dunia anak sangat beragam dan agar imajinasinya bangkit. Untuk berdasarkan agama sendiri, kami juga mencari buku yang bercerita singkat dan mudah dipahami maksudnya. Dan penyampaian isi buku dipahami anak. Goalnya anak paham dan mencintai ibadah. Sayangnya untuk buku anak lokal sendiri masih sedikit penulis yang membuat narasi singkat namun jelas. Pernah saya membeli buku sirah tentang nabi Yunus as. Memang bukunya berbentuk mainan, sayang penjelasannya kurang mengena untuk yang kurang paham ceritanya. Itulah yang menjadi dasar saya memilah milih bacaan untuk anak. Kira-kira kesimpulan saya begini. 

  1.  Narasi singkat dan jelas, namun bisa dipahami oleh orangtua dan anak
  2. Ilustrasi menarik
  3. Menyesuaikan budget yang dimiliki, jangan memaksa jika belum mampu membeli
  4. Membeli buku second bisa menjadi alternatif
  5. Sesuaikan age range (umur anak)
  6. Jangan lupa, bacakan bukunya. 

Saya sendiri memang terkadang suka membelikan buku impor, tetapi saat menceritakan tetap dengan bahasa Ibu, karena untuk segi bacaan memang mudah dipahami dan cerita mudah dicerna untuk balita. Semoga kedepannya banyak muncul pengarang-pengarang Indonesia yang menulis buku dengan narasi singkat juga, serta minat baca di Indonesia juga melonjak tajam. Alhamdulillah kegiatan belanja buku anak juga sudah direstui dengan mertua, malah sangat mendukung agar menciptakan suasana membaca di dalam rumah. Selamat membaca. 
#GameLevel5  #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Bedtime, Storytime For Kiddos


Bismillah,

Setelah curhat cantik dengan teteh fasilitator kelas BunSay, akhirnya mendapatkan waktu yang pas untuk memberikan bacaan terbaik untuk anak. Memang dalam seminar parenting yang pernah saya ikuti di Kelompok Bermain anak saya, ada tiga waktu yang tepat untuk memasukkan konsep kepada anak, dan ini yang menjadi patokan saya juga, yaitu, saat makan, menjelang tidur dan berpergian. Kali ini berhubungan dengan membaca buku. Ternyata membuat anak antusias dengan buku menjadi sebuah tantangan tersendiri. 

Masih dalam rangka membangkitkan minat adik menyukai buku, saya mendapatkan beberapa masukan dari teh Thasya. Yaitu meniru pendongeng yang kece, ceileh, yaitu dengan cara read aloud, full ekspresi, dengan suara yang berganti-ganti, untungnya saya mantan pemain teater waktu sekolah dan pernah menjadi penyiar radio. Alhamdulillah ilmunya masih terpakai juga setelah menjadi Ibu Rumah Tangga. Yup, sesuai dengan jalannya kelas Ibu Profesional, menjadi Ibu Rumah Tangga yang Profesional. 

Day 1

Hari pertama mempraktekkan tahapan magical stage, yaitu menciptakan suasana ajaib yang mengajak anak tertarik dengan buku, foto ini diambil ketika anak mulai riyep-riyep alias ngantuk, eeeh saat itu dia malah tertarik dengan isi buku. Alhasil si kakak yang tertidur, hehehe… Lalu si adek yang matanya masih terang benderang saya ajak kembali berkenalan dengan board book, saya ajak bolak balik halamannya. Sambil cerita dengan sedikit rhyme ngarang sendiri. Alhamdulillah berhasil. Paling ngga dihari pertama tantangan memperkenalkan adik kepada buku, adik mulai suka menyentuh buku, itu sudah peningkatan loh, ketimbang kemarin mencoba pakai softbook malah mlipir dan ngacir tanpa permisi. 

Sebenarnya cara ini dulu saya kenalkan kepada kakak semenjak dia berusia kira-kira 6-7 bulan, masih dini, kala itu lagi hits softbook alias buku bantal, akhirnya berhasil untuk mengisi waktu tenang di siang hari. Dan terasa sekali dengan adanya waktu tenang ini, terlebih menjelang tidur malam. Harapan saya kedepannya, semoga bisa mendisplinkan anak-anak kembali dalam menjaga waktu bercengkerama dengan buku agar mereka mencintai buku.

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Pohon Literasi

Bismillah, 

Dalam rangka tantangan kelas Bunsay level 5 ini dan seperti post sebelumnya. Akhirnya proses pembuatan ‘pohon literasi’ kami sudah siap. 

Ya, seperti yang saya post kemarin, mengambil tema dari buku anak yang populer, yaitu very hungry caterpillar, akhirnya ulat bulu kami mulai siap melahap buku-buku bersama. Kenapa harus VHC? Karena buku ini punya filosofi yang sangat dalam tentang metamorfosis, bagaimana si ulat bulu ini yang awalnya hanya sebuah telur di atas daun lalu menjadi ulat bulu yang kelaparan. Sama seperti saya dan anak-anak yang sama-sama kelaparan ilmu, saya belajar menghadapi anak-anak dan anak-anak sedang dalam masa ingin tahu yang tinggi. Disitulah peran membaca bertindak. 

Untuk anak pertama yang saat ini berusia 2 tahun 11 bulan, sedari bayi sudah mulai saya kenalkan buku sebagai quite time, dan mungkin dahulu aktifitas tak sepadat setelah beranak dua, saya bisa membangkitkan antusiasnya terhadap buku hingga saat ini. Tantangan saya kali ini adalah mengenalkan buku kepada adik. Karena belum bangkit antusiasnya saat saya berdongeng. Karena adik tipe anak yang mandiri, dia suka bermain sendiri maksudnya. Mungkin lewat tantangan ini pelan-pelan bisa membangkitkan minat dia terhadap buku. Saya pun pelan-pelan mulai memberikan softbook untuk dia bermain. Semoga kalian berdua cinta buku ya nak. 

Dengan adanya tantangan membuat pohon literasi ini pun akhirnya saya mulai perlahan-lahan membuat reading list lagi, Alhamdulillah beberapa bulan ini saya kembali rutin belanja buku kembali setelah vakum cukup lama. Dengan cara menjual buku, akhirnya saya juga bisa membeli buku bacaan juga. Hehehe. Saya biasa membeli buku dalam bahasa Inggris untuk membiasakan diri saja agar tidak luntur ilmu yang pernah saya pelajari dahulu. 

Baiklah perlahan mulai membuat reading list yang akan dipos di edisi berikutnya. Kira-kira buku apa saja ya? Sampai jumpa besok. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Menghidupkan kembali budaya membaca melalui pohon literasi

Bismillah, 

Alhamdulillah bisa bertemu kembali di tugas IIP saya, beberapa waktu lalu sempat tersendat karena kesibukan rumah tangga dan  sedang nyambi fokus berbenah diri, setelah refresh dengan libur di cawu satu lalu, akhirnya kembali lagi berkecimpung dalam Tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang. Benar-benar sayang untuk dilewatkan tantangan kali ini. Karena sesuai hobi. 

Menanggapi budaya membaca, Indonesia sendiri pernah menduduki peringkat kurang baik. Oleh karenanya, kesadaran untuk membaca memang harus dibangkitkan sejak dini. Saya juga mengalami saat-saat dimana saya tidak membaca buku sama sekali, jelas, itu sangat berbeda ketika saya sedang membaca buku. Otak saya seakan kosong, apalagi sebagai Ibu Rumah Tangga, saya rasa perlu untuk kembali meluangkan waktu menambah wawasan saya. 

Perintah membaca sendiri dalam Islam sudah jelas. Dalam surat Al-‘Alaq yang artinya, 

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim,

Bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan kalam. Dia mengajar manusia yang tidak diketahui. (QS : Al ‘Alaq 1-5)

Merupakan surat yang pertama kali di turunkan oleh Allah, yaitu perintah membaca, membaca kalam Allah, mencari ilmu tanpa harus melampaui batas diri sebagai hamba Allah. Lalu dengan membaca, memiliki tujuan mengenal diri kita lebih dalam lagi. Masya Allah, sungguh benar kalam Allah, tidak sedikitpun saya ragu. Karena dengan membaca, otak saya pun terisi dengan ilmu-ilmu baru. 

Sebagai Ibu, saya juga merasa harus menulari hobi saya ini kepada anak-anak saya kelak, lewat tantangan kali ini saya merasa, ini saatnya. Kembali berniat mengisi ruang kamar kami dengan buku-buku bergizi. Agar anak-anak bisa mencintai ilmu lewat membaca. Walau saat ini mereka masih kecil-kecil dan belum saatnya bagi mereka membaca, tetapi antusiasme harus dibangkitkan. Manfaatnya yang saya rasakan cukup jelas pada anak pertama saya, yang mulai banyak berbicara dan kritis, walau kadang Ibunya kewalahan menghadapinya, itu malah menjadi PR saya kembali untuk membaca buku-buku parenting. 

Saya pun kembali menyusun buku-buku yang akan dibaca pada tantangan kali ini, sekaligus mengenalkan ruang baca umum pada anak, alasan yang tepat untuk berkunjung ke perpustakaan ataupun rumah baca di sekitar kota ini. Semoga waktunya memungkinkan untuk keluar rumah berburu buku di perpustakaan dan ruang baca. 

Dan pohon literasi kami mengambil tema dari buku anak populer yaitu, Very Hungry Caterpillar. Kami membuatnya dengan memanfaatkan barang bekas juga. Okay, insyaAllah kami siap untuk ikutan tantangan level 5 ini. 


Si Mas juga ikut bantu menyiapkan pohon literasinya, terimakasih Mas. 


#GameLevel5 

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Cerita Saya, diy

Dondong Opo Salak, Ghendong Opo Mhundak, Kisah di balik gendongan tradisional 

Sebagai orang keturunan jawa saya sangat familiar dengan lagu

  Dondong Opo Salak

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Gendhong opo mhundak, mlaku timik-timik

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Ngandhong opo mbecak, mlaku timik-timik

Ade ndherek Ibu, tindak menyang pasar

Ora pareng rewel, ora pareng nakal

Mengko Ibu mesti, mundut oleh-oleh

Kacang karo roti, ade diparingi

Lagu itu, sudah masuk dalam kehidupan saya sedari bayi, bahkan masa balita saya masih ingat ketika saya ditidurkan dengan lagu itu oleh Ibu, entah sambil menggendong saya atau sekedar puk puk saat mau tidur. Sudah menjadi budaya, bahkan turun sampai saat ini. Saya suka menikmati lagu itu yang versi bossanova, hehehe biar lebih nge-jazz. Ceileh. Tapi kali ini bukan membahas lagu itu tapi makna dibalik lagu itu. 

Yap, menggendong anak. Sudah menjadi sebuah naluri seorang Ibu menggendong anak. Sebuah tradisi kuno sejak jaman dahulu yang memberikan manfaat banyak, yang paling nyata adalah bonding, kelekatan anak terhadap Ibunya. Bicara tentang gendongan, tidak ada habisnya. Mulai yang tradisional hingga modern yang sudah mulai berkembang dan mengangkat issue keselamatan. MasyaAllah, ilmu yang tidak ada habisnya ya. 

Fokus pada Indonesia, negara kepulauan yang dimana saya ditakdirkan untuk lahir dan hidup hingga saat ini. Beruntungnya saya hidup berpindah-pindah tempat, tidak menetap di satu pulau saja. Ketika semasa kecil hingga remaja saya habiskan di Kalimantan, kampung halaman saya. Dimana budayanya kaya sekali. Bahkan suku Dayak sendiri punya gendongan khusus yang bernama Bening Aban, tapi saya familiar menyebutnya Anjat. Seperti foto diatas seperti itulah gendongannya. Digunakan wanita dayak untuk menggendong anaknya di belakang. Agar Ibu yang bekerja di ladang atau dimanapun bisa menggendong dan bekerja dengan leluasa. Kerennya, gendongan ini dihiasi manik-manik bersusun membentuk ornamen khas dayak. Tak hanya manik-manik kadang ada gigi binatang yang sudah mati, kerang, dll. Indah banget. 

Foto ini diambil oleh kawan saya, Abdul Hakim yang berkunjung ke daerah Kutai Barat, tepatnya desa Linggang Melapeh, dimana bermukim suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Oiya gendongan ini berbahan dasar rotan, yang dilapisi kain, menurut kawan saya. Di sana Ibu-Ibu suku Dayak Benuaq, membuat sendiri anjat untuk dipakai sendiri. Yang banyak diproduksi di desa Eheng, kampungnya orang Benuaq. Kalau untuk produksi kerajinan belum terlalu banyak memang. Ya, itulah kenyataan jaman sekarang. Produksi kerajinan tangan mulai terpinggirkan, sama halnya nasib dari penenun lokal. 

Baru-baru ini saya juga berkunjung ke pengrajin tenun, dengan tujuan ingin mencari untuk dijadikan gendongan yang lagi hits dikalangan Ibu-Ibu, Woven Wrap. Bercerita tentang budaya tenun pun tiap daerah punya perbedaan, masih membahas kultur, jika di kampung halaman saya, Samarinda Kalimantan Timur, para pengrajin tenun atbm kebanyakan wanita maka jika di tempat saya tinggal saat ini Pekalongan, maka yang dijumpai adalah laki-laki, jika di Samarinda, setiap rumah punya ruang khusus tenun, beda hal yang di Pekalongan, dikerjakan di satu rumah produksi sendiri dan beramai-ramai. Beda lagi kalau kita ke Timur Indonesia, di sana alat tenun tradisionalnya masih dipangku. Dan di NTB atau NTT denger-denger dari gadis harus bisa menenun sebelum menikah. Karena itu syaratnya dia ketika ingin menikah. Ah, Indonesiaku, makin cinta deh. 

Namun pengrajin punya PR besar, permasalahan yang dihadapi pun sama. Saat ini untuk kerajinan tangan entah itu gendongan dari rotan seperti pembahasan Anjat, kain tenun pun memiliki persamaan masalah, yaitu mulai berkurangnya sumber daya manusia yang mau menekuni pembuatan kerajinan tangan ini, menurut beberapa sumber pengrajin tenun yang pernah saya kunjungi, di Samarinda (2012, pada saat saya dan kawan membuat film pendek Sarung Hasna) maupun di Pekalongan (2017). Padahal dalam dunia gendongan saat ini sedang banyak yang gandrung dengan handwoven. Terlihat makin banyak produsen luar yang mulai bergairah menekuni bisnis gendongan ini. Semoga kedepannya anak muda bahkan Ibu-ibu muda tertarik belajar menenun ya. Agar kita bisa melestarikan warisan kebudayaan ini. Memang budaya ini mulai bergeser lantaran kurangnya motivasi dalam mencintai produksi tangan. Memang, proses kerajinan tangan butuh waktu yang lama, untuk tenun sendiri dari memintal benang sampai masuk ke alat tenun butuh waktu beberapa hari terlebih dahulu sebelum di tenun. Harganya pun saya pikir masuk akal, sangat masuk akal untuk hasil tenunan. Sebagai antusias kerajinan tangan saya pun juga merasakan, bagaimana proses sebuah hasil tangan. Yuk, sama-sama kita mulai belajar mencintai produk dalam negeri. Agar lestari budaya bangsa. 

Tulisan ini saya buat sebagai apresiasi saya kepada Ibu-Ibu Indonesia, khususnya pengrajin tangan tradisional. Semangat juangnya untuk melestarikan budaya semoga bisa menulari kami kaum muda modern. 

Posted in Bunda Sayang, Challenge, IIP, My Family My Team, Proyek Keluarga

Ayo kita jemput Ayah part 2

#Tantangan10hari level 3 : Proyek Keluarga

Masih dalam tahapan persiapan dalam proyek keluarga dalam rangka menjemput Ayah di Semarang, sementara ini Ibu masih mempersiapkan bekal MPASI adek, dan sudah terlaksana, cukup membawa sari kurma, oat, abon, snack seperti puff dan cookies,  sementara buah-buahan bisa diperoleh di jalan atau di penginapan. Lalu pada tahap persiapan ini ternyata salah satu peserta proyek sedang demam tinggi

Waaaaduh, apakah proyek ini bisa berjalan sesuai rencana? Qadarullah, kakak sedang demam kemarin, karena demamnya sedari pagi belum turun jadi malamnya kita pergi ke dokter. Dan hasilnya harus dipantau hingga hari Minggu. Jika Minggu kakak masih demam tinggi berarti harus periksa lab karena diindikasikan ada gejala DB kata dokter. Baiklah kalau begitu kita pantau saja keadaan kakak. Hingga besok hari Minggu, dan pagi tadi kakak bangun tidur tanpa rengekan dan Ibu pun semalam tidur nyenyak sekali. Dan kakak sudah lompat-lompat lagi. Nafsu makannya pun sudah mulai oke. Mari kita pantau sehari lagi ya kak. Baru kita laksanakan proyek menjemput Ayah. 

#Tantangan10hari #Hari4 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunSayIIP #BundaSayang 

Posted in Cerita Saya

Ayo kita jemput Ayah

#Tantangan10hari level 3 : Proyek Keluarga Day 3

Tahap Persiapan 

Keluargaku memang penuh spontanitas, yang tadinya belum ada rencana apa-apa jelang kepulangan Ayah, eh tiba-tiba diajak ke Semarang sama Ayah. Kalau dulu masih berdua dengan kakak kemana-mana, sekarang Ibu melakukan perjalanan bertiga dahulu bersama adik dan kakak lalu menjemput Ayah di Bandara. 

Yang harus dipersiapkan :

  • Fisik anak, harus sehat.
  • Transportasi, pakai jasa travel. Tadinya sih pengen pakai kereta, ternyata jumlah infant tidak boleh melebihi jumlah dewasa. 
  • MPASI adik, yang ini agak susah-susah gampang, pasti bisa deh.
  • Gendongan, jarik & beh dai
  • Pakaian anak-anak. 
  • Camilan.
  • Perlengkapan mandi dan lainnya. 

Karena selama di Semarang kita rencana mau menginap jadi yang harus dipersiapkan orang tua iyalah. 

  • Mencari penginapan.
  • Persewaan transportasi selama di Semarang.
  • Mencari tempat wisata yang mendidik anak dan membuat mereka senang. 

Tentunya sebagai pasangan jarak jauh kami terus berkordinasi hingga hari pelaksanaan proyek keluarga dapat dijalankan. Semoga bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Mengingat saat ini musim pancaroba dan cuaca mulai agak memanas jadi harus ekstra memperhatikan kesiapan fisik anak jika diajak traveling. 

#Tantangan10hari #Hari3 #ProyekKeluarga #MyFamilyMyTeam #BundaSayang #KuliahBunSayIIP

Posted in Bunda Sayang, Challenge, IIP, My Family My Team, Proyek Keluarga

Becak becak, Tolong antar kami

#Tantangan10hari level 3 : Proyek Keluarga 

Nama Proyek : Jum’at Becak’an

Gagasan : Ide ini murni dari kakak yang senang sekali naik becak. Awalnya karena ketidaksengajaan hampir setiap Jum’at keluar rumah mau bepergian selalu menggunakan alat transportasi tradisional ini. Akhirnya terbentuklah secara mendadak “Jum’at Becak’an” Awalnya pun karena keprihatinan Ibu yang sepulang berbelanja di-curhat-in dengan tukang becak, keberadaan mereka kadang tersingkirkan dengan angkutan umum konvensional dan kendaraan pribadi, namun mereka tetap saja memilih becak sebagai mata pencahariannya. Lalu dengan menggunakan becak paling tidak kita bisa meringankan beban ekonomi keluarga para pembecak. 

Pelaksanaan : Jum’at 24 Maret 2017
Evaluasi : Sebelum melaksanakan kegiatan sebaiknya melakukan persiapan terlebih dahulu dan membuat kesepakatan bersama. Mengingat peserta proyek belum mandi. 
#Tantangan10hari #Hari2 #ProyekKeluarga #MyFamilyMyTeam #KuliahBunSay #IIP


Posted in Bunda Sayang, Challenge, IIP, Proyek Keluarga

Berkunjung ke Rumah Sakit  

#Tantangan10hari level 3 : Proyek Keluarga
Memasuki level ketiga dalam tantangan 10 hari kali ini bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Yaitu membuat proyek keluarga. Awalnya agak bingung, ternyata bisa juga melewati hari pertama. 

Di hari ini bertepatan dengan tangan saya yang cedera, akhirnya malam sebelumnya dapat ide untuk mengajak anak ikut berkunjung ke rumah sakit. Ini dia ringkasan hasil kunjungan ke Rumah Sakit pada hari ini. 

Nama Proyek : Menemani Ibu Ke Rumah Sakit

Gagasan : Di karenakan tangan sebelah kanan Ibu cedera karena benturan benda tumpul, akhirnya tangan Ibu tidak bisa diluruskan, dan Ibu harus memeriksakan ke dokter. Malam hari sebelum esok pagi ke dokter, Ibu meminta kakak menemani Ibu. Kakak setuju, dan adik juga dipesani agar di rumah menjadi adik yang baik dan bisa kerjasama dengan Mbah Uti. 

Pelaksanaan : Kamis, 23 maret. Jam 8 pagi hingga selesai. 

Di rumah sakit kakak dapat bekerjasama dengan baik. Kakak mengikuti setiap langkah Ibu dan tidak rewel, sesekali bermain bersama, tidak lupa Ibu membawa bekal pisang, susu dan air putih. Di sana kakak mengamati kegiatan yang ada di sekitar ruang tunggu, bercengkrama dengan dokter walau masih malu-malu awalnya. Dan mendapat hadiah pisang juga dari pak Dokter. Menunggu Ibu terapi sambil bermain di ruangan fisioterapi. Sesekali bercerita dan mau diajak berkenalan dengan terapisnya. Kakak yang tadinya malu-malu baru bisa cair setelah 30 menit. Saat menunggu Ibu terapi, kakak bermain sendiri dengan alat-alat aman untuk dimainkan yang ada di ruangan terapi, memakan bekal pisang dan membuang sampah pada tempatnya dengan arahan Ibu melalui suara. Selama berada di Rumah Sakit kakak menjadi mandiri dan memahami keadaan Ibunya yang sedang di terapi. 

Evaluasi : Ibu harus lebih siap lagi dengan perbekalan jika mengajak kakak. Dan Ibu harus mengajarkan kembali bagaimana jika bertemu orang asing, menyapa dan memberi salam. Kakak masih malu-malu, tetapi sudah tidak takut dengan rumah sakit. Dan mendapat kesan jika dokter itu orang yang baik dan ramah. Dan kakak tidak takut. 

Sebagai reward karena kakak sudah berbaik hati menemani Ibu akhirnya Ibu ajak makan di luar dan bermain. 

#Tantangan10hari #level3 #ProyekKeluarga #KuliahBunSayIIP

Posted in Bunda Sayang, IIP, Melatih Kemandirian

Aliran Rasa: Melatih Kemandirian Anak

Bismillah, 

Dalam tahapan ini sejujurnya saya masih bingung tata laksananya. Dan mentok pada hari keempat di draft. Tetapi dalam keseharian saya masih menjalankan pelatihan. Terutama pada toilet training untuk si Kakak. Alhamdulillah semakin kesini kakak menunjukkan grafik kemajuan, walaupun sering banyak nawar, maklum anak-anak. Jujur saya senang anak saya mulai kritis, berarti tahapan komunikasi produktif masih berjalan.

Dalam proses latihan kemandirian, saya akui memang terdapat perbedaan antara adik dan kakak. Adik memang lebih mandiri, terlihat semenjak saya melahirkannya. Kakak, ini hutang besar saya dalam bersama-sama memperbaiki beberapa hal. Saya dulu memang terlalu memanjakannya. Alhamdulillah untuk grafik kemandirian kakak banyak peningkatan. Mulai banyak berani melakukan hal yang belum pernah dia coba sendiri. Dan dalam toilet training mulai bisa menunjukkan kemajuan, seperti inisiatif tidak meminta popok/diaper ketika setelah mandi. Mulai disiplin dengan waktu bermain dan sudah jarang berlama-lama di rumah tetangga, ketika mendapat jatah menonton video di telivisi pun dia juga tahu kapan waktunya harus mematikan televisinya sendiri. Dalam bermain terkadang dia juga menyelesaikan tantangan simple chores, membereskan kembali mainannya sambil bernyanyi. Dan masih belum tuntas dalam urusan makan. Masih PR buat saya. 

Adik pun sama, sekarang sudah tidak merasa separation anxiety, sudah paham waktu-waktu dimana Ibu harus meninggalkannya untuk beberapa kepentingan. Bermain sendiri dan eksplorasi (masih dalam pengawasan), dalam belajar berjalan pun juga sama. Adik senang eksplorasi bagaimana cara berdiri sendiri tanpa dibantu, dan kemajuan lainnya.

Latihan membentuk kemandirian anak saya rasakan sekali, membuat saya paham ternyata anak juga dapat menolong dirinya sendiri dan bisa belajar bertanggung jawab. Tentunya saya masih banyak belajar juga dan mendampingi anak saya belajar mandiri, terlebih saya diamanahkan mendidik dua anak laki-laki yang dimana lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibunya. Semoga dalam materi melatih kemandirian anak saya juga belajar tega dan tidak memberikan cheat kepada anak saya. Dan bisa membentuk anak yang mandiri kelak. InsyaAllah akan terus saya praktikkan. Karena saya sendiri belum tuntas dalam materi ini.