Blog

Posted in Cerita Saya, Parenting

Ngobrol Gayeng tentang Charlotte Mason (HS part 3)

Ngobrol Gayeng, pengenalan Charlotte Mason education oleh Ellen Kristi dan Kathy Howeler, praktisi CM dari US. 

Pada Rabu, 30 Agustus,  saya berkesempatan mengikuti workshop mengenai konsep belajar dengan metode Charlotte Mason, dengan narasumber mba Ellen Kristi, beliau praktisi CM di Indonesia. Sebelum memulai workshop saya berkesempatan berkenalan dengan Mba Ellen dan berbicara mengenai homeschooling dan bagaimana memulainya. Lalu mengawali workshop mba Ellen, menceritakan perjalanan beliau menemukan homeschooling sebagaimana bermula semasa sekolah hingga kuliah S2 di Jogjakarta, saat itu bertemu dengan dosennya di sebuah forum, saat itu dosen beliau mengkritik sistem pendidikan di Indonesia. Dari pelajaran hidup saat bersekolah itulah beliau merefleksikan diri kembali. “What makes me who I am now? Mostly my family, not my school.” Karena sewaktu bersekolah di sekolah Advent, sekolah beliau termasuk sekolah buangan. Jika memang sistem pendidikannya baik, maka teman-teman beliau semasa sekolah pun seharusnya bisa lebih baik lagi dari beliau, nyatanya berbeda dan tak sama. Apa yang telah beliau capai itu adalah hasil didikan orangtua bukan sekolahan. Lalu setelah menemukan jawaban itu, beliau menjadi volunteer di Jogjakarta sebagai pengajar anak-anak jalanan. Dari situ beliau mendapatkan pelajaran kembali tentang situasi masa kanak-kanak itu tidak seragam dan tidak bisa diseragamkan. Semua tergantung situasi dan keadaan yang terjadi pada anak-anak tersebut. Lalu saat memiliki anak pertama, itulah hal yang benar-benar mengubah dunianya. 

Baik mba Ellen dan Kathy, hampir memiliki latar belakang memulai homeschooling dari perjalanan yang hampir serupa hingga akhirnya bertemu dengan metode Charlotte Mason. Pesan mba Ellen, kesalahan newbie saat memulai HS adalah mempelajari tekniknya bukan filosofi dari pendidikan tersebut. Jadi timbullah kegalauan dari orangtua yang ingin menerapkan beberapa metode HS. Hal serupa dialami oleh Kathy, yang dahulu berprofesi sebagai pendidik. Saat menghadapi suatu kasus akhirnya mengajak Kathy menemukan titik balik, yaitu beliau merasa terlalu menggegas anak pertamanya saat memulai homeschooling. Namun ternyata cara tersebut salah. Lalu kedua narasumber juga pernah mencoba metode Unschooling, namun terlalu bebas dan tak berstruktur, karena kebebasan dan struktur harusnya bisa berimbang. Setelah melalui perjalanan kedua narasumber akhirnya menemukan prinsip dasar pendidikan. Dan yang menjadi pilihan adalah metode Charlotte Mason. 

Charlotte Mason education is three-pronged: in her words, “Education is an Atmosphere, a Discipline, a Life.”

An Atmosphere, A Discipline, A Life

By “Atmosphere,” Charlotte meant the surroundings in which the child grows up. A child absorbs a lot from his home environment. Charlotte believed that the ideas that rule your life as the parent make up one-third of your child’s education.

By “Discipline,” Charlotte meant the discipline of good habits—and specifically habits of character. Cultivating good habits in your child’s life make up another third of his education.

The other third of education, “Life,” applies to academics. Charlotte believed that we should give children living thoughts and ideas, not just dry facts. So all of her methods for teaching the various school subjects are built around that concept.

Nah konsep inilah yang digunakan dalam metode CM, karena dalam CM menyetujui bahwa anak terlahir sebagai pribadi. Dan CM sangat respect dengan kehidupan anak sebagai pribadi. Dalam metode ini juga orangtua menjadi belajar tentang atmosfer yang bisa respect kepada anak. Apakah atmosfer tersebut ditemukan dalam sekolah? Kembali lagi bagaimana kita sebagai orangtua agar bisa menumbuhkan atmosfer itu dimulai dari rumah.

Lalu dalam metode CM ini ada beberapa hal yang bisa dilatih, yang menjadi konsen saya adalah ketika pembahasan Habit Training. Karena hal ini bukanlah hal yang mudah, tetapi niscaya dilakukan jika bisa konsisten. Habit Training ini bertujuan untuk menginstal kebiasaan apa saja yang ingin kita tanamkan kepada anak. Ya, Habit Training yang difokuskan antaranya Habit of Attention dan Habit of Obedience. Sebagai orangtua pasti berharap banget bisa menerapkan Habit of Obedience, ya dimana ada ketegasan dalam batasan antara otoriter orangtua atau hanya membebaskan anak saja. Ada batasan tersendiri memang, karena kalau anak terlalu bebas akan susah diatur kemudian hari. Namun orangtua jangan terlalu diktator juga. Kathy memberikan contoh perbuatan bagaimana bersikap tegas namun penuh kasih sayang. Untuk mencapai semua itu memang harus dibutuhkan konsistensi. Goals dari metode Charlotte Mason ini ialah magnanimity atau menjadi pribadi yang berbudi luhur. Oleh karena saya harus menemukan prinsip dan filosofi terlebih dahulu. Semoga kelak bisa bertemu orang yang satu visi dan misi dengan saya. 

Pekalongan, 1 September 2017

Advertisements
Posted in Cerita Saya

Al Ummu Madrosah al-Ula (HS Part 2)

Lanjutan dari pos sebelumnya yang membahas homeschooling, wacana untuk sekolahkan anak di rumah sebenarnya sudah ada di benak saya sebelum saya menemukan komunitas yang sinergi dengan keinginan saya saat ini. Walau banyak sekali mitos-mitos yang berkembang tentang homeschool saya merasa kok saya terpanggil ya untuk melakukan ini? Apa saya mampu? Apa saya hanya ikutan tren saja?

Nggak, semua berasal dari kekhawatiran saya tentang masa depan anak saya sendiri, semenjak di kandungan, mereka Allah titipkan di rahim saya, semenjak saat itu saya merasa bertanggung jawab mau jadi apakah mereka kelak, kenapa saya tertarik dengan homeschooling? Ya, karena kekhawatiran itu tadi, juga karena beratnya beban anak sekolahan jaman sekarang, belum lagi keluhan guru dalam menghadapi muridnya sendiri yang sepertinya susah diatur, sering bolos, galau, cinta-cintaan, dan permasalahan remaja lainnya. Inilah faktor saya untuk meng-HS-kan anak saya. Sebenarnya lebih kepada Home Education sih, kalau bicara Home Schooling saya rasa terlalu dini, karena anak saya masih balita.

Mengapa perlunya Home Education ini bagi saya, ya, lagi-lagi saya, karena ini adalah opini saya, tepatnya in my humble opinion. Saya ingin anak saya merdeka memilih jalan hidupnya namun masih dalam koridor core value keluarga, apa aja core value keluarga itu? Kalau saya sepakat dengan hasil workshop lalu, yaitu nilai-nilai utama yang harus dipegang teguh sebagai dasar, pondasi utama keluarga, antaranya IMAN dan KEHORMATAN. Bukan hanya mereka tumbuh besar lalu mudah mencari pekerjaan, lebih dari itu. Harapan saya kepada anak-anak kelak mereka paham dengan diri mereka, bermanfaat bagi banyak orang minimal orang terdekatnya dahulu, mengerti peran hidupnya. Jika mereka sudah mengenal itu semua saya sebagai orangtua sudah tidak khawatir dengan masa depan mereka.

Segelintir orang masih beranggapan, raih pendidikan setinggi-tingginya, lalu carilah pekerjaan, jaman sekarang cari pekerjaan itu susah, dan lain sebagainya, jika ini tidak sesuai dengan passion, pastilah akan menyiksa sekali, yang saya takutkan adalah mereka akan cidera. Saya inginkan mereka tersalur dengan baik apa yang mereka cita-citakan. Tugas saya hanyalah sebagai Ibu, yang semoga bisa menjadi tempat pembelajaran mereka pertama. Bisa membersamai mereka dalam belajar mencintai ilmu yang menuntun mereka ke tujuan hidup mereka sejalan dengan core value keluarga tadi.

Ini adalah tumpahan kegalauan saya menjadi orangtua. Karena ketika menyaksikan mereka tumbuh, tanggung jawab saya bukan hanya memberikan rasa nyaman saja, bukan hanya mengenyangkan perut mereka saja. Tapi saya juga bertanggung jawab mengenalkan mereka kepada ilmu. Terutama ilmu agama, yang pelan-pelan ditumbuhkan dengan cinta kepada Allah SWT. Akhir kata,

Al-Ummu madrosatul ula’, Ibu adalah sekolah utama. Iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

-Syair Arab

Cukup itu sebagai nasihat untuk saya pribadi, saya memang bukan Ibu yang sempurna, namun karena amanah yang diberikan langsung oleh Allah, maka saya harus memperbaiki diri saya terlebih dahulu dalam mendidik dan membersamai anak saya. Saat ini saya benar-benar ingin memperbaiki keadaan. Semoga Allah menghendaki dan merestui jalan saya. Kalau pun pada akhirnya bersekolah pun, dia harus siap mental dan semoga tidak menyusahkan gurunya. Itulah tujuan saya mendalami Home Education ini, karena saya yakin, setiap anak punya bakat masing-masing dan tidak bisa disamakan. Mumpung usia mereka masih dalam tahapan 0-7 tahun, semoga saya bisa memuaskan kecintaan mereka terhadap apa yang membuat mereka penasaran dan yang mereka butuhkan. Tanpa diburu-buru, digegas, yang penting terpenuhi apa yang membuat mereka penasaran dan perlahan membersamai dan menumbuhkan karakter. Tentu ini tidak akan berjalan jika tidak ada kerjasama dari kedua belah pihak (suami & istri) walau saya harus mengeluarkan ekstra pikiran, saya enjoy dengan keadaan saat ini. Dan memang harus banyak-banyak memakai stok kesabaran dalam menghadapi semuanya. Fokus dan semangat!

Posted in Cerita Saya, IIP

Homeschooling? Yay or Nay? Part 1

Hari ini kembali lagi hadir di acara keren yang diadakan di kampung halaman, ngga disangka, kepulanganku ke Samarinda ternyata bertepatan dengan agenda-agenda luar biasa di sini. Sebelumnya ada acara Samarinda StartUp Festival saya bertemu salah satu rockstar saya pak Muhaimin Iqbal. Kali ini sepertinya Allah memberikan jalan lagi untuk memikirkan kembali rencana saya untuk menyekolahkan anak di rumah seperti yang saya inginkan dari awal. 


Memang pertentangan itu pasti ada saat ingin memulai homeschooling, itu pula yang saya tanyakan pada kesempatan saat mengikuti workshop Homeschooling Fasilitator yang diadakan oleh IIP Kaltimra, 19 Agustus 2017. Workshop ini diikuti oleh 11 orang ibu-ibu kece yang punya semangat untuk membawa perubahan dan membangun peradabannya dari dalam rumah. Ya, karena yang mengikuti workshop ini terlihat antusias pada materi yang dibawakan oleh Bunda Dinari Lutfiani, alumni school for homeschool facilitator (SFHF) Padepokan Margosari. Wah impian saya banget itu ke Padepokan Margosari. Kalau sudah kecemplung di IIP pasti deh pengen ke sana. Well, lanjut ya bu. Kenapa sih, belakangan HOMESCHOOL makin diminati? Susah ngga sih praktiknya? Mulainya harus dari usia berapa? Kurikulumnya? Siapa yang harus merancang? Gurunya siapa? Gaulnya anak-anak gimana? Belajarnya ngapain aja? Terus bisa keterima ngga diperguruantinggi? Kalau orangtuanya cuma lulusan SMA, emang bisa? Kalau keluarga ngga dukung gimana? Tenang. Itu adalah pertanyaan di dalam otak saya. Iya, otak saya. 

Mari ditelaah satu per satu karena akhirnya sedikit demi sedikit saya mendapatkan jawabannya lewat workshop singkat 9 jam ini. Homeschool sendiri bukan barang baru sebenarnya, keberadaannya pun banyak, cuma kebanyakan yang saya tahu dulu, lembaga-lembaga yang ngundang guru ke rumah untuk mengajarkan si anak macam les privat, tetot, ternyata saya salah besar. Setelah punya anak, semakin kesini semakin saya sadar, oh iya, ternyata homeschooling itu ngga begitu, walau ada ya yang seperti itu. Lebih dari itu alasan untuk ber-HS yang semakin populer ialah ideologis, karena meningkatnya jumlah orangtua terpelajar yang merasa bisa mendidik sendiri anak mereka. Kekhawatiran orangtua pada ekses persekolahan. Termasuk dalam alasan saya juga. Lalu bisa juga dikarenakan keluarga yang berpindah-pindah atau perjalanan internasional, saya sebenarnya ingin sekali melakukan itu. Agar anak saya bisa mengenal dunia yang Allah ciptakan ini luas dan beragam sekali. Saya ingin bisa hidup secara nomaden, karena dari pengalaman saya, saya belajar banyak hal dari hidup berpindah-pindah tempat. Ingin mengenalkan kepada anak deh sekarang, ini harapan saya. Bicara mengenai harapan, orangtua boleh loh punya 5 harapan untuk anaknya kelak. Berarti saya masih ada 4 lagi. Namun harapan orangtua ini jangan dijadikan sebagai obsesi sehingga tidak menciderai fitrah anak kelak. 

Susah ngga sih HS itu? Tergantung pemahaman orangtuanya, tergantung tingkat kebutuhan orangtuanya lagi, jika di rasa berminat dan mampu, boleh. Berbeda dengan HE (Home Education) ini bagi saya wajib. Karena mendidik anak sebaiknya dari dalam rumah. Orangtua sebagai fasilitator anak harusnya bagaimana ya? Kuncinya agar bisa berjalan semua ialah, SABAR, IKHLAS dan MAU BELAJAR. Itu dulu yang harus dipegang oleh orangtua. Tadi juga saya bertanya, saya fokuskan pada usia 0-7 tahun, karena anak-anak saya masih balita, bagaiman prosesnya memulai homeschooling. Jawabannya jangan terburu-buru, biarkan mereka menikmati banyak hal, kenalkan semua peran, profesi, dan fasilitasi semua yang ingin mereka kerjakan asal itu semua masih dalam koridor, jadi untuk anak dibawah 7 tahun, tidak ada target khusus, yang ditakutkan akan menjadi beban. Jika mereka sudah bisa melewati fase 0-7 tahun secara paripurna maka diusia 7 tahun mereka siap menerima dunia baru. Fokuskan saja pada kecintaan, seperti kecintaan pada Allah, bicarakan hanya hitam dan putih saja jangan abu-abu, kelak ada masanya mereka akan membahas abu-abu itu. Tanamkan cintanya pada Allah dengan imaji-imaji positif bukan ancaman. Indikator berjalannya HS ini bukan tuntas/tidak tuntas, lulus/tidak lulus, sukses/gagal, namun evaluasi dan penilaiannya melalui on track atau off track. Maka mulai dengan target kecil, sehingga anak merasakan bahwa antara harapan dengan kenyataan tidak terlalu jauh. Dan akhirnya anak bisa percaya diri. 

Okay pembahasannya bersambung ya, maklum terlalu semangat malam hari ini sampai susah tidur, ternyata ngeblog lebih bikin cepat mengantuk. So, see you again. Soon. 

Posted in Cerita Saya

Hilangnya Empati

Belakangan ini pengen menarik diri dari dunia sosial media, tapi berat karena sumber mata pencaharian juga berasal dari situ. Ya, hanya bisa memperbanyak skip-skip-skip terhadap postingan yang lagi ramai yang mulai banyak hilang rasa empati dari masyarakat. Entah apakah ini fenomena sosial media ataukah saya yang terlalu sensitif karena sedang menghadapi suatu permasalahan? Mungkin saya yang sensi. 

Fenomena-fenomena “mom war” memang sering menjadi sorotan tersendiri. Antara vaksin dan antivaks yang mulai memanas, antara lahiran normal vs cesar, mpasi instant vs rumahan, sekolah paud vs unschool, sekolah formal vs homeschool, etc. Ya, saya lebih baik menahan diri untuk tidak berkecimpung di dalam peperangan tersebut karena malah menghabiskan energi. Saya cuma ingin meluruskan, masyarakat kita agaknya kekurangan rasa empati. Stop, empati itu apa sih? Apa bedanya dengan simpati? Okay sekedar mengingatkan kembali, untuk rasa empati ini sendiri memang saudara kembar dari simpati (suatu proses ketika seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain) namun tidak hanya perasaan saja, tapi diikuti perasaan organisme dari dalam tubuh yang amat dalam, jadi kita bisa mengindikasikan perasaan terhadap apa yang terjadi pada orang lain. Kira-kira begitu, dari empati kita belajar melihat sudut pandang berbeda. 

Semisal contoh kasus yang lagi rame, becandaan lucu antara suami istri yang lagi rame tentang merk mobil. Lalu, pihak lain ada yang mengingatkan kalau bercanda coba pikirkan perasaan single mother, pasangan rumah tangga yang bermasalah, dan lain-lain, seketika langsung dibilang itu berlebihan sama saja seperti harus menghormati orang yang tidak berpuasa saat bulan puasa. Duh. Mereka yang berkomentar begitu mungkin ngga tau rasanya berada diposisi kritis, dimana rumah tangga sedang diuji dengan cobaan yang luar biasa. Akan kah kita mentertawakan saja apabila hal itu terjadi pada kawan kita? Atau memang sudah tidak jaman lagi memikirkan perasaan orang lain? Dengan mentertawakan sebuah nasihat? 

Contoh lain dialami kawan baik saya yang memang anaknya terlahir prematur untuk menaikkan berat badan anaknya menjadi 5 kg butuh waktu 9 bulan. Dan dengan enteng Ibu lain yang punya anak normal berkata, “anak saya usia 2.5 bulan sudah 5 kg” sakit banget rasanya jika mendengarkan itu. Kawan saya yang satu lagi, profesi sebagai jurnalis di Ibukota, merasakan dirinya makin lama. Makin kehilangan empati karena tergerus dengan pekerjaan. Harus bergulat dengan waktu, dituntut serba cepat dan berpikir keras. Dia sendiri merasa dirinya kekurangan rasa empati. Sungguh, berat sekali akhir zaman ini, terutama di media sosial, dengan mudah kita melontarkan perkataan-perkataan yang tanpa sengaja memang yang mungkin menyakiti pihak lain, lalu kita membalasnya. Mungkin yang aku lakukan juga sama? Mungkin saja, tetapi aku cuma ingin sekali mengajak untuk lebih empati lagi terhadap orang lain. Sama halnya menahan diri untuk tidak membalas, tapi yang saya lakukan semoga menjadi sesuatu yang bisa dipikirkan kembali untuk memposting sesuatu. 

Sebuah laman di facebook bernama Montague Workshop juga menyoroti masalah tentang bersikap empati dengan mengutip sebuah film dari Charlie Caplin yang saya rasa tepat menggambarkan kondisi dunia sosial media saat ini. 

“We think too much and feel too little. More than machinery we need humanity. More than cleverness we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.” 

-Charlie Chaplin

So, guys, i am so sorry, kalau tulisan ini agak melankolis, anggap aja aku yang lagi sensitif, terlalu hectic, dan mungkin kedepannya lebih banyak diam aja kali ya dan pakai metode skip-skip-skip. Skip to my lou my darling. Yah, memang harus perbanyak menahan tangan dan lisan. Jangan lupa take a deep breathe. Semoga bermanfaat deh ya. 

Posted in Bunda Sayang, I Love Math, IIP, Math Around Us

Petualangan Matematika Sekitar Kita

Bismillah, 

Yay… Masuk ke tantangan kelas Bunda Sayang selanjutnya, yaitu mengenalkan konsep matematika dalam hidup si kecil. Wah matematika, kok berat ya bahasannya? Ternyata ngga, hidup kita ngga terlepas dari matematika. Bismillah, sama-sama mulai belajar mengenal matematika yang ada di sekitaran rumah. Kali ini Haidar lagi berpetualang di rumah Samarinda. Haidar senang banget bisa ketemu tanah, tumbuhan, hewan piaraan dan bebas bermain di alam. Pagi ini seperti pagi biasa, kami bertiga menikmati pagi dengan jalan kaki, melihat sekitar area tempat tinggal, memperhatikan burung, ayam, dan hewan lainnya. Karena pagi ini burung merpatinya ngga menghampiri dekat kita, jadi kita ubah pengenalan matematikanya. Tadinya mau berhitung jumlah burung atau hewan lainnya.

Kali ini mengenalkan kembali konsep perbandingan kepada Haidar (3 th). Yang jadi obyek kali ini adalah buah pepaya di pohon. 

Cara mengenalkan perbandingan dengan Haidar saya memakai cara tebak-tebakan. Dengan begitu dia mulai mengenal yang mana yang besar dan yang kecil. Dilanjutkan pengenalan perbandingan besar dan kecil dengan buah lain, sambil sarapan saya mengambil pisang untuk dibandingkan mana yang besar dan pisang mana yang kecil dengan bentuk yang berbeda dengan buah sebelumnya yaitu pepaya. Akhirnya anak mulai mengenal dan mengidentifikasi bentuk mana yang besar dan kecil. 


#Tantangan10Hari #Level6 #KuliahBunsayIip #ILoveMath #MathAroundUs

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Memilih buku bacaan untuk si kecil

Bismillah, 

Memasuki tantangan hari keempat kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam memilih buku untuk si kecil sesuai tahapan usianya. Saya dan suami memang memiliki perbedaan dalam membelanjakan buku. Kalau suami memang kurang antusias dalam segi kuantitas tapi dia lebih suka membelikan berdasarkan kualitas buku, maksudnya adalah cocok tidaknya buku itu dibacakan untuk usia sekian dan sekian. Kalau saya sendiri, suka sekali berbelanja buku. Tentu saja menyesuaikan budget juga. Tulisan ini juga berdasarkan pengalaman keluarga kami. Kenapa suami belum mau membelikan buku yang berisi banyak seri? Alasannya mungkin karena takut tidak ada waktu untuk membacakannya ke anak-anak, dan anak-anak tidak terlalu tertarik dengan cerita yang narasinya kepanjangan. 

Kalau untuk saya sendiri, saya tidak ada masalah dalam berbelanja buku, malah saya suka mengoleksi yang berseri. Karena sudah ada tokoh yang familiar bagi anak. Memang Ibu harus ada effort lebih lagi agak bisa mengoleksi buku. Hihihi. Dalam rangka membuat mini library di rumah, semoga bisa terwujud. Saya sendiri juga mulai kembali mengoleksi bacaan klasik, seperti Pippi. Supaya kelak bisa dibaca anak ketika ia sudah bisa membaca. 

Untuk menumbuhkan minat baca kepada anak sendiri saya rasa memang harus membuat anak tertarik dahulu pada buku. Buku apa saja memang bisa, mulai dari boardbook sampai paperback. Sebenarnya ngga masalah. Mungkin isinya saja yang bisa dipilih-pilih. Karena anak kami bukan tipe anak yang saat ibunya membaca buku terus anaknya anteng, jadi kami memilih buku dengan narasi singkat tapi penuh ilustrasi. 

Contohnya buku Ensiklopedia cerdas, buku terjemahan asal Perancis ini saya rasa cocok dibaca usia 0-5 tahun. Range umurnya cukup lama. Karena narasinya singkat dan menimbulkan antusias kepada anak dan buku-buku lainnya yang berisi narasi singkat, apalagi untuk anak-anak yang belum bisa membaca. 

Kalau saya dan suami memilih buku cerita bebas dan beragam, tidak harus terpaku pada satu tema saja. Karena dunia anak sangat beragam dan agar imajinasinya bangkit. Untuk berdasarkan agama sendiri, kami juga mencari buku yang bercerita singkat dan mudah dipahami maksudnya. Dan penyampaian isi buku dipahami anak. Goalnya anak paham dan mencintai ibadah. Sayangnya untuk buku anak lokal sendiri masih sedikit penulis yang membuat narasi singkat namun jelas. Pernah saya membeli buku sirah tentang nabi Yunus as. Memang bukunya berbentuk mainan, sayang penjelasannya kurang mengena untuk yang kurang paham ceritanya. Itulah yang menjadi dasar saya memilah milih bacaan untuk anak. Kira-kira kesimpulan saya begini. 

  1.  Narasi singkat dan jelas, namun bisa dipahami oleh orangtua dan anak
  2. Ilustrasi menarik
  3. Menyesuaikan budget yang dimiliki, jangan memaksa jika belum mampu membeli
  4. Membeli buku second bisa menjadi alternatif
  5. Sesuaikan age range (umur anak)
  6. Jangan lupa, bacakan bukunya. 

Saya sendiri memang terkadang suka membelikan buku impor, tetapi saat menceritakan tetap dengan bahasa Ibu, karena untuk segi bacaan memang mudah dipahami dan cerita mudah dicerna untuk balita. Semoga kedepannya banyak muncul pengarang-pengarang Indonesia yang menulis buku dengan narasi singkat juga, serta minat baca di Indonesia juga melonjak tajam. Alhamdulillah kegiatan belanja buku anak juga sudah direstui dengan mertua, malah sangat mendukung agar menciptakan suasana membaca di dalam rumah. Selamat membaca. 
#GameLevel5  #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Bedtime, Storytime For Kiddos


Bismillah,

Setelah curhat cantik dengan teteh fasilitator kelas BunSay, akhirnya mendapatkan waktu yang pas untuk memberikan bacaan terbaik untuk anak. Memang dalam seminar parenting yang pernah saya ikuti di Kelompok Bermain anak saya, ada tiga waktu yang tepat untuk memasukkan konsep kepada anak, dan ini yang menjadi patokan saya juga, yaitu, saat makan, menjelang tidur dan berpergian. Kali ini berhubungan dengan membaca buku. Ternyata membuat anak antusias dengan buku menjadi sebuah tantangan tersendiri. 

Masih dalam rangka membangkitkan minat adik menyukai buku, saya mendapatkan beberapa masukan dari teh Thasya. Yaitu meniru pendongeng yang kece, ceileh, yaitu dengan cara read aloud, full ekspresi, dengan suara yang berganti-ganti, untungnya saya mantan pemain teater waktu sekolah dan pernah menjadi penyiar radio. Alhamdulillah ilmunya masih terpakai juga setelah menjadi Ibu Rumah Tangga. Yup, sesuai dengan jalannya kelas Ibu Profesional, menjadi Ibu Rumah Tangga yang Profesional. 

Day 1

Hari pertama mempraktekkan tahapan magical stage, yaitu menciptakan suasana ajaib yang mengajak anak tertarik dengan buku, foto ini diambil ketika anak mulai riyep-riyep alias ngantuk, eeeh saat itu dia malah tertarik dengan isi buku. Alhasil si kakak yang tertidur, hehehe… Lalu si adek yang matanya masih terang benderang saya ajak kembali berkenalan dengan board book, saya ajak bolak balik halamannya. Sambil cerita dengan sedikit rhyme ngarang sendiri. Alhamdulillah berhasil. Paling ngga dihari pertama tantangan memperkenalkan adik kepada buku, adik mulai suka menyentuh buku, itu sudah peningkatan loh, ketimbang kemarin mencoba pakai softbook malah mlipir dan ngacir tanpa permisi. 

Sebenarnya cara ini dulu saya kenalkan kepada kakak semenjak dia berusia kira-kira 6-7 bulan, masih dini, kala itu lagi hits softbook alias buku bantal, akhirnya berhasil untuk mengisi waktu tenang di siang hari. Dan terasa sekali dengan adanya waktu tenang ini, terlebih menjelang tidur malam. Harapan saya kedepannya, semoga bisa mendisplinkan anak-anak kembali dalam menjaga waktu bercengkerama dengan buku agar mereka mencintai buku.

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Pohon Literasi

Bismillah, 

Dalam rangka tantangan kelas Bunsay level 5 ini dan seperti post sebelumnya. Akhirnya proses pembuatan ‘pohon literasi’ kami sudah siap. 

Ya, seperti yang saya post kemarin, mengambil tema dari buku anak yang populer, yaitu very hungry caterpillar, akhirnya ulat bulu kami mulai siap melahap buku-buku bersama. Kenapa harus VHC? Karena buku ini punya filosofi yang sangat dalam tentang metamorfosis, bagaimana si ulat bulu ini yang awalnya hanya sebuah telur di atas daun lalu menjadi ulat bulu yang kelaparan. Sama seperti saya dan anak-anak yang sama-sama kelaparan ilmu, saya belajar menghadapi anak-anak dan anak-anak sedang dalam masa ingin tahu yang tinggi. Disitulah peran membaca bertindak. 

Untuk anak pertama yang saat ini berusia 2 tahun 11 bulan, sedari bayi sudah mulai saya kenalkan buku sebagai quite time, dan mungkin dahulu aktifitas tak sepadat setelah beranak dua, saya bisa membangkitkan antusiasnya terhadap buku hingga saat ini. Tantangan saya kali ini adalah mengenalkan buku kepada adik. Karena belum bangkit antusiasnya saat saya berdongeng. Karena adik tipe anak yang mandiri, dia suka bermain sendiri maksudnya. Mungkin lewat tantangan ini pelan-pelan bisa membangkitkan minat dia terhadap buku. Saya pun pelan-pelan mulai memberikan softbook untuk dia bermain. Semoga kalian berdua cinta buku ya nak. 

Dengan adanya tantangan membuat pohon literasi ini pun akhirnya saya mulai perlahan-lahan membuat reading list lagi, Alhamdulillah beberapa bulan ini saya kembali rutin belanja buku kembali setelah vakum cukup lama. Dengan cara menjual buku, akhirnya saya juga bisa membeli buku bacaan juga. Hehehe. Saya biasa membeli buku dalam bahasa Inggris untuk membiasakan diri saja agar tidak luntur ilmu yang pernah saya pelajari dahulu. 

Baiklah perlahan mulai membuat reading list yang akan dipos di edisi berikutnya. Kira-kira buku apa saja ya? Sampai jumpa besok. 

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Bunda Sayang, Challenge, For Things To Change, I Must Change First, IIP

Menghidupkan kembali budaya membaca melalui pohon literasi

Bismillah, 

Alhamdulillah bisa bertemu kembali di tugas IIP saya, beberapa waktu lalu sempat tersendat karena kesibukan rumah tangga dan  sedang nyambi fokus berbenah diri, setelah refresh dengan libur di cawu satu lalu, akhirnya kembali lagi berkecimpung dalam Tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang. Benar-benar sayang untuk dilewatkan tantangan kali ini. Karena sesuai hobi. 

Menanggapi budaya membaca, Indonesia sendiri pernah menduduki peringkat kurang baik. Oleh karenanya, kesadaran untuk membaca memang harus dibangkitkan sejak dini. Saya juga mengalami saat-saat dimana saya tidak membaca buku sama sekali, jelas, itu sangat berbeda ketika saya sedang membaca buku. Otak saya seakan kosong, apalagi sebagai Ibu Rumah Tangga, saya rasa perlu untuk kembali meluangkan waktu menambah wawasan saya. 

Perintah membaca sendiri dalam Islam sudah jelas. Dalam surat Al-‘Alaq yang artinya, 

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim,

Bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan kalam. Dia mengajar manusia yang tidak diketahui. (QS : Al ‘Alaq 1-5)

Merupakan surat yang pertama kali di turunkan oleh Allah, yaitu perintah membaca, membaca kalam Allah, mencari ilmu tanpa harus melampaui batas diri sebagai hamba Allah. Lalu dengan membaca, memiliki tujuan mengenal diri kita lebih dalam lagi. Masya Allah, sungguh benar kalam Allah, tidak sedikitpun saya ragu. Karena dengan membaca, otak saya pun terisi dengan ilmu-ilmu baru. 

Sebagai Ibu, saya juga merasa harus menulari hobi saya ini kepada anak-anak saya kelak, lewat tantangan kali ini saya merasa, ini saatnya. Kembali berniat mengisi ruang kamar kami dengan buku-buku bergizi. Agar anak-anak bisa mencintai ilmu lewat membaca. Walau saat ini mereka masih kecil-kecil dan belum saatnya bagi mereka membaca, tetapi antusiasme harus dibangkitkan. Manfaatnya yang saya rasakan cukup jelas pada anak pertama saya, yang mulai banyak berbicara dan kritis, walau kadang Ibunya kewalahan menghadapinya, itu malah menjadi PR saya kembali untuk membaca buku-buku parenting. 

Saya pun kembali menyusun buku-buku yang akan dibaca pada tantangan kali ini, sekaligus mengenalkan ruang baca umum pada anak, alasan yang tepat untuk berkunjung ke perpustakaan ataupun rumah baca di sekitar kota ini. Semoga waktunya memungkinkan untuk keluar rumah berburu buku di perpustakaan dan ruang baca. 

Dan pohon literasi kami mengambil tema dari buku anak populer yaitu, Very Hungry Caterpillar. Kami membuatnya dengan memanfaatkan barang bekas juga. Okay, insyaAllah kami siap untuk ikutan tantangan level 5 ini. 


Si Mas juga ikut bantu menyiapkan pohon literasinya, terimakasih Mas. 


#GameLevel5 

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Posted in Cerita Saya, diy

Dondong Opo Salak, Ghendong Opo Mhundak, Kisah di balik gendongan tradisional 

Sebagai orang keturunan jawa saya sangat familiar dengan lagu

  Dondong Opo Salak

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Gendhong opo mhundak, mlaku timik-timik

Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Ngandhong opo mbecak, mlaku timik-timik

Ade ndherek Ibu, tindak menyang pasar

Ora pareng rewel, ora pareng nakal

Mengko Ibu mesti, mundut oleh-oleh

Kacang karo roti, ade diparingi

Lagu itu, sudah masuk dalam kehidupan saya sedari bayi, bahkan masa balita saya masih ingat ketika saya ditidurkan dengan lagu itu oleh Ibu, entah sambil menggendong saya atau sekedar puk puk saat mau tidur. Sudah menjadi budaya, bahkan turun sampai saat ini. Saya suka menikmati lagu itu yang versi bossanova, hehehe biar lebih nge-jazz. Ceileh. Tapi kali ini bukan membahas lagu itu tapi makna dibalik lagu itu. 

Yap, menggendong anak. Sudah menjadi sebuah naluri seorang Ibu menggendong anak. Sebuah tradisi kuno sejak jaman dahulu yang memberikan manfaat banyak, yang paling nyata adalah bonding, kelekatan anak terhadap Ibunya. Bicara tentang gendongan, tidak ada habisnya. Mulai yang tradisional hingga modern yang sudah mulai berkembang dan mengangkat issue keselamatan. MasyaAllah, ilmu yang tidak ada habisnya ya. 

Fokus pada Indonesia, negara kepulauan yang dimana saya ditakdirkan untuk lahir dan hidup hingga saat ini. Beruntungnya saya hidup berpindah-pindah tempat, tidak menetap di satu pulau saja. Ketika semasa kecil hingga remaja saya habiskan di Kalimantan, kampung halaman saya. Dimana budayanya kaya sekali. Bahkan suku Dayak sendiri punya gendongan khusus yang bernama Bening Aban, tapi saya familiar menyebutnya Anjat. Seperti foto diatas seperti itulah gendongannya. Digunakan wanita dayak untuk menggendong anaknya di belakang. Agar Ibu yang bekerja di ladang atau dimanapun bisa menggendong dan bekerja dengan leluasa. Kerennya, gendongan ini dihiasi manik-manik bersusun membentuk ornamen khas dayak. Tak hanya manik-manik kadang ada gigi binatang yang sudah mati, kerang, dll. Indah banget. 

Foto ini diambil oleh kawan saya, Abdul Hakim yang berkunjung ke daerah Kutai Barat, tepatnya desa Linggang Melapeh, dimana bermukim suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Oiya gendongan ini berbahan dasar rotan, yang dilapisi kain, menurut kawan saya. Di sana Ibu-Ibu suku Dayak Benuaq, membuat sendiri anjat untuk dipakai sendiri. Yang banyak diproduksi di desa Eheng, kampungnya orang Benuaq. Kalau untuk produksi kerajinan belum terlalu banyak memang. Ya, itulah kenyataan jaman sekarang. Produksi kerajinan tangan mulai terpinggirkan, sama halnya nasib dari penenun lokal. 

Baru-baru ini saya juga berkunjung ke pengrajin tenun, dengan tujuan ingin mencari untuk dijadikan gendongan yang lagi hits dikalangan Ibu-Ibu, Woven Wrap. Bercerita tentang budaya tenun pun tiap daerah punya perbedaan, masih membahas kultur, jika di kampung halaman saya, Samarinda Kalimantan Timur, para pengrajin tenun atbm kebanyakan wanita maka jika di tempat saya tinggal saat ini Pekalongan, maka yang dijumpai adalah laki-laki, jika di Samarinda, setiap rumah punya ruang khusus tenun, beda hal yang di Pekalongan, dikerjakan di satu rumah produksi sendiri dan beramai-ramai. Beda lagi kalau kita ke Timur Indonesia, di sana alat tenun tradisionalnya masih dipangku. Dan di NTB atau NTT denger-denger dari gadis harus bisa menenun sebelum menikah. Karena itu syaratnya dia ketika ingin menikah. Ah, Indonesiaku, makin cinta deh. 

Namun pengrajin punya PR besar, permasalahan yang dihadapi pun sama. Saat ini untuk kerajinan tangan entah itu gendongan dari rotan seperti pembahasan Anjat, kain tenun pun memiliki persamaan masalah, yaitu mulai berkurangnya sumber daya manusia yang mau menekuni pembuatan kerajinan tangan ini, menurut beberapa sumber pengrajin tenun yang pernah saya kunjungi, di Samarinda (2012, pada saat saya dan kawan membuat film pendek Sarung Hasna) maupun di Pekalongan (2017). Padahal dalam dunia gendongan saat ini sedang banyak yang gandrung dengan handwoven. Terlihat makin banyak produsen luar yang mulai bergairah menekuni bisnis gendongan ini. Semoga kedepannya anak muda bahkan Ibu-ibu muda tertarik belajar menenun ya. Agar kita bisa melestarikan warisan kebudayaan ini. Memang budaya ini mulai bergeser lantaran kurangnya motivasi dalam mencintai produksi tangan. Memang, proses kerajinan tangan butuh waktu yang lama, untuk tenun sendiri dari memintal benang sampai masuk ke alat tenun butuh waktu beberapa hari terlebih dahulu sebelum di tenun. Harganya pun saya pikir masuk akal, sangat masuk akal untuk hasil tenunan. Sebagai antusias kerajinan tangan saya pun juga merasakan, bagaimana proses sebuah hasil tangan. Yuk, sama-sama kita mulai belajar mencintai produk dalam negeri. Agar lestari budaya bangsa. 

Tulisan ini saya buat sebagai apresiasi saya kepada Ibu-Ibu Indonesia, khususnya pengrajin tangan tradisional. Semangat juangnya untuk melestarikan budaya semoga bisa menulari kami kaum muda modern.